Image

Dok Pribadi

Pagi ini masuk ke kelas lima, pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Kalau jaman saya dulu namanya pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (KTK). Sebenarnya bukan mata pelajaran yang ku ampu, tapi karena tidak tega membiarkan anak-anak terbengkalai di kelas, dan karena juga kebetulan ada kertas origami dari kompasianer, Dyah Rina, maka aku masuk ke kelas lima.

Kali ini aku membagi mereka menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok diberi peralatan yang sama jumlah dan warnanya, kemudian aku meminta mereka menggambar menggunakan kertas origami itu. jadi tinggal main tempel-tempel aja tanpa menggunakan cat air. Mereka antusias sekali di awal penjelasanku. Tapi kemudian, saat kertas origami sudah dibagikan, justru mereka bingung mau ngapain. Kardus yang sudah disediakan sebagai kanvas bahkan masih kosong selama setengah jam.

Ketika hampir satu jam berlalu barulah mereka riuh menggunting dan menempel. Aku perhatikan, ketiganya menggambar dengan tema yang sama, pemandangan. Tapi tidak ada gunung sama sekali karena aku melarangnya.

Di akhir aku memberi penjelasan ke mereka beberapa hal. Bahwa dalam menggambar seperti ini dibutuhkan kerja tim yang baik, harus memilih ketua tim dan saling bantu. Tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain. Mereka mengerti.

Selain itu aku juga menyampaikan beberapa pelajaran hidup kepada mereka.

“Anak-anak, menurut kalian gambar mana yang paling bagus?” mereka langsung menunjuk ke kelompok satu. Berdasarkan pengamatan ku memang kelompok satu ini kelompok yang paling kompak dan saling bantu satu sama lain.

“Nah padahal di awal Bapak sudah memberikan peralatan dan sumber daya yang sama bukan? Setiap kelompok mendapatkan kertas origami dengan jumlah dan warna yang sama, memiliki anggota kelompok yang juga sama satu sama lain, lalu mengapa hasilnya berbeda? Hayo, ada yang tahu mengapa ini bisa terjadi” tanyaku.

Semua anak-anak diam, tidak berani mengungkap isi hatinya. Takut ditertawakan oleh yang teman-teman lainnya.

“Baik anak-anak, beginilah hidup. Kita diberi waktu yang sama sehari semalam, 24 jam. Mono punya 24 jam sehari, Bunjiri juga memiliki 24 jam sehari. Tapi hasil belajar mereka akan berbeda jika mereka tidak memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin”

Mereka mengangguk-angguk, entah anggukan mengerti atau anggukan bingung. Soalnya disini semua guru mengajar menggunakan bahasa Melayu, bahasa ibu mereka. Sedangkan aku menjelaskan menggunakan bahasa Indonesia.

“Mengapa ada orang yang kaya tapi ada juga yang miskin? Mengapa ada yang sukses, tapi sebagian malah ada yang meratapi kegagalan?” tanyaku memancing mereka lagi untuk berpikir. Tapi sekali lagi semua diam, tidak berani mengutarakan pendapat mereka. Padahal aku melihat ada beberapa bibir yang sudah bergerak-gerak ingin menyampaikan sesuatu, tapi tidak jadi.

“Orang yang gagal dan miskin, mereka tidak memanfaatkan semua potensi yang ada pada dirinya dengan baik. Kita semua pintar dan hebat, tapi kita sendiri juga yang kadang membunuh kemampuan itu sehingga tidak berkembang menjadi apapun”

“Baik..” ujarku “Kalian pasti ingin menjadi orang sukses, bukan??”

“Iyaaa Pak!!”

“Nah maka maksimalkan waktu dan kemampuan kalian dengan baik, jangan bermalas-malasan dan psimis. Kalian harus optimis dan yakin bahwa kalian bisa!!”

“Siaaap!!”

“Kota Bangun!!!” teriak ku.

Mereka serentak menjawab dengan penuh semangat, “Yess!!!!!!!!!!”

Terimakasih mbak Dyah Rina, semoga sehat selalu.

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi.