Image

Selain mengajar, akupun banyak belajar dari mereka

Sejak pertama kali tiba di pedalaman Kalimantan ini, saya sempat heran  ketika ada siswa kelas satu SD memanggil orang yang sudah kelas 3 SMA dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel abang atau kakak. Di lain waktu saya melihat guru junior juga melakukan hal yang sama, memanggil namanya saja ke guru lainnya yang lebih senior, tidak ada embel-embel pak atau bu. Padahalkan jika di tempat anda, sesama guru tetap memanggil bapak atau ibu, bukan? Memberikan contoh yang baik kepada siswanya.

Saya sempat menanyakan hal ini ke beberapa anak-anak dan orang tua, dan semuanya menjelaskan bahwa memang begitulah budaya disini. Sapaan abang atau kakak hanya untuk saudara saja, sedangkan untuk sesama teman cukup memanggil nama.

Disini, tidak peduli dia kelas berapa, tidak peduli berapa selisih usianya, semua memang memanggil nama saja, tidak ada sapaan, Kakak atau Abang, apalagi mas, untuk sesama teman. Ini sangat berbeda dengan kondisiku dahulu waktu sekolah, aku selalu memanggil abang atau kakak untuk kakak kelas ku. Memanggil nama saja untuk orang yang lebih tua menurutku yang keturunan jawa, adalah tidak sopan.

Keadaan ini membuat ku sempat berpikir, apakah budaya Barat sudah masuk sebegitu kuatnya ke sini? Tapi setelah diamati sepertinya tidak ada celah masuk untuk budaya Barat itu. Kalaupun ada, cuma kecil sekali.

Kemungkinan keudanya adalah jangan-jangan dahulu, Belanda yang menjajah Indonesia hingga 3.5 abad tidak berhasil menanamkan feodalisme ke pedalaman ini? Entahlah.

Di satu sisi, budaya ini memberikan isyarat kepada kita bahwa setiap manusia itu sama. Memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tidak dibedakan apakah dia kaya atau kaum bangsawan dan tidak ada rakyat biasa, pokoknya semuanya sama. Tidak seperti di Jawa yang kental dengan feodalisme, di Jawa kita kenal Priyayi, Ningrat, Raden mas, Gusti, kaum bangsawan, rakyat biasa, abdi dalem, dll. Sebutan-sebutan itu menunjukkan kedudukannya sebagai kaum bangsawan dan terhormat atau bukan.

Penganut feodalisme seperti ini, jika menjadi pemimpin, akan menjadi orang yang harus dilayani, bukan melayani. Kemana-mana inginnya disambut dengan meriah, dihormati dan dihargai. Anehnya lagi, si penyambut atau daerah yang didatangi malah senang direpotkan begini. Jalanan yang bobrok pun bisa disulap menjadi bagus dalam sekejap jika ada SBY yang datang bukan?

Penganut Feodalisme juga tidak memandang orang lain sesuai kemampuan yang dimilikinya, tapi dilihat dari asal usulnya, dari bangsawan atau tidak? Darah biru atau tidak? Bagi kita yang berpendidikan, jelas ini adalah sesuatu yang aneh bukan?

Tidak sampai di situ, feodalisme ini juga sudah menjajah ke sisi hukum kita. Bukan lagi rahasia bukan bahwa jika orang besar yang terjerat kasus korupsi atau apalah, maka ia mendapatkan layanan khusus di penjara. Fasilitas mewah dan pelayanan istimewa lainnya. Jika dipikir-pikir musuh utama negeri ini mungkin adalah feodalisme itu.

Di sisi lain, kejadian ini membuatku khawatir juga, apakah nilai-nilai luhur budaya timur kita sudah begitu luntur disini? Mengapa anak-anak yang masih muda belia seenaknya saja memanggil nama ke orang yang jauh lebih tua? Tapi biarlah, inikan budaya mereka. Bukan bentuk ketidaksopanan. Lagiankan lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain pula ikannya bukan?

Terakhir tulisan ini bukan mengajak untuk beramai-ramai memanggil orang seenaknya loh.. hehehe.. kita harus menghormati orang yang lebih tua, tapi juga jangan berlebihan, yang wajar-wajar saja.

Salam Ukhuwah.