Kemarin, Kamis 7 Juni 2012, seharian jalan-jalan ke Pasir Panjang, Singkawang Kalimantan Barat. Berangkat dari sekolah jam setengah 7 pagi, sampai sekolah lagi jam setengah 7 malam. Makanya seharian tidak posting satupun tulisan, lelah. Jalan-jalan ini dalam rangka perpisahan anak kelas 6. Selain itu juga berguna untuk memberikan hiburan ke warga pedalaman. Penting untuk sesekali memberikan apresiasi ke tubuh dan jiwa mereka. Karena tidak baik juga terus menerus menggunakan tubuh ini untuk bekerja di kebun dan sawah tanpa memberikan hadiah apapun. Rutinitas yang dilakukan terus menerus bisa hanya melelahkan dan tidak berarti apa-apa.

Kami berangkat sekitar jam setengah delapan dari rumah kepala sekolah menggunakan sebuah bus. Ya tentu saja bus nya tidak semewah bus-bus yang sering kugunakan jika sedang fieldtrip dulu, karena dana kami sangat minim. Bus ini penuh sesak, bahkan saya sampai menggantung di pintu belakang. Ada dua objek wisata yang akan kami kunjungi, pantai Pasir Panjang dan kolam renang teratai.

Sesampainya di Pasir Panjang, anak-anak langsung menagajakku berpoto di bebatuan yang eksotik, saya langsung menurutinya. Ceria sekali. Setelah beberapa jepretan berhasil dibekukan, anak-anak langsung mandi di pantai, sedangkan saya bergabung dengan guru-guru dan orang tua murid. Kami makan bersama.

Image

Disinilah hal unik terjadi, seperti biasa, aku makan sesuai porsi ku yang memang sedikit. Beberapa suap nasi dan beraneka macam lauk pauk, ada ayam goreng, telur rebus, sambel tongkol, sayur nangka, dan sambel teri. Ah, benar-benar nikmat.

Saya makan dengan lahap hingga saat nasiku sudah hampir habis, seorang ibu yang sudah berumur berkata, “Pak Syaiful, tambah nasinya!”

“Iya mak, makasih. Sudah kenyang banget nih” aku menolak dengan cara halus.

Beberapa saat kemudian, ibu tadi kembali menawari, “Nasinya tambah pak Syaiful!”

“Udah cukup mak, Alhamdulillah udah kenyang”

Baru saja akan menyelesaikan makan ku, ibu tadi langsung merebut piringku dan memasukkan nasi satu sendok makan, sedikit saja. Aku sempet berteriak, “Ehh.. udah mak, saya udah kenyang”. Waktu itu memang saya kenyang sekali. Nasi memang sedikit, tapi lauk pauknya penuh.

Si ibu tadi diam saja, mengembalikan piring yang sudah ditambah sedikit nasi kepadaku. Tapi seorang ibu muda di sebelahku berkata, “Kalau orang tua nyuruh nambah, kita harus nambah walau sedikit Pak Syaiful, itu udah adat kebiasaan di Melayu sini”

Saya kaget, pantes ibu tadi seenaknya saja merebut piring dari tanganku, “Ooohhh gitu ya Kak? Wah kalau gitu lain kali pas makan di sini, ngambil nasinya sedikit aja deh, biar bisa nambah kalau disuruh sama orang tua”

Si ibu muda yang usianya mungkin lebih muda dariku tadi tergelak.

Sahabat sekalian, kita semua jelas paham sama pepatah yang mengatakan, dimana bumi dipijak maka disitulah langit dijunjung. Sedang berada dimana kita sekarang, maka hargailah adat dan budaya yang ada di daerah itu. Selagi itu tidak mempengaruhi keyakinan kita, fine-fine aja bukan!

Dari kejadian itu saya mengambil satu pelajaran, makanlah sedikit saja di rumah orang disini, biar ada ruang jika disuruh nambah. Hehehe..

Salam Ukhuwah