Sebuah cerpen dari Indah Abdullah

Image

Jemari mungil itu begitu lincah bermain diatas tuts piano. menciptakan nada-nada indah dari hati sebuah simfoni kehidupan yang bertaut dalam takdir. Naysha gadis kecil yang kukenal sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Yayasan Tunas Harapan kota Bengkulu di Acara syukuran yang diadakan oleh Yayasan empat bulan lalu. Seorang gadis berusia enam tahun dengan talenta istimewa yang telah dihadiahkan Tuhan untuk gadis kecil seperti Naysha.

“Bu,, seperti apa matahari itu?”

Tanya Naysha ketika sore itu Aku mengajaknya jalan-jalan ke Pantai Panjang bersama anak-anak yang lain sambil menikmati sunset. Aku terdiam, kupandangi wajah cantik milik Naysha. Bola mata hitamnya seolah-olah dapat memandangku, seperti meminta jawaban yang tentu saja dapat ia mengerti.

“Matahari itu indah Nay,.Seperti bola yang setiap sisinya di beri warna-warna terang berisikan harapan”

“Untuk siapa bu?” tanya Naysha lagi.

“Harapan bagi jiwa-jiwa penuh mimpi. Agar hari-harinya bisa dilalui dengan baik dan dapat menciptakan sebuah cerita indah dan berharga bagi hidup mereka”

Kulihat Naysha diam. Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah jadi murung.

“Kenapa, Nay?kata-kata Ibu ada yang salah ya? tanyaku. Naysha diam sejenak hanya kalimat-kalimat yang kemudian meluncur pelan dari bibir mungilnyalah yang cukup membuatku terhenyak.

“Jadi matahari bukan untuk Nay juga bu. Nay ga’ bisa lihat terangnya, kan mata Nay buta”

Naysha hanya menunduk. Sejak lahir Naysha sudah ditakdirkan tidak dapat melihat. Kedua orang tuanya pun akhirnya meninggalkan Naysha kecil enam tahun yang lalu di depan pintu Yayasan dengan sepucuk surat berisikan permohonan maaf dan permintaan agar Naysha bisa di rawat dengan baik. Seperti itulah cerita yang kudapatkan dari Ibu Sonya, Ibuku sekaligus pemilik Yayasan Tunas Harapan. Saat aku mulai memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi bagian dari Yayasan dengan memberikan pendidikan luar sekolah dan keterampilan bagi anak-anak di Yayasan ini. Dan dari ratusan anak, Naysha lah yang paling dekat denganku.

“Naysha…” panggilku pelan sambil meraih kedua punggung tangan Naysha dan meletakkannya di dadanya.

“Nay tahu, Terang itu ada disini. Di dalam hati Nay. Dan abadi di jiwa Nay. Itu sebabnya Nay mampu menciptakan nada-nada indah saat Nay bermain piano. Hal yang mungkin tidak dapat dilakukan semua orang yang memiliki kesempurnaan. Bukankah di balik kekurangan kita Tuhan selalu menyelipkan sebuah keistimewaan untuk kita “

Kulihat senyum kembali merekah di bibirnya, menciptakan dua lesung pipit di wajahnya yang membuat Naysha semakin terlihat cantik.

“Bu Rani,, Naysha… ayo sini gabung sama kita”

Teriakan itu menyadarkanku. Aku mengajak Naysha ke pinggir pantai, bergabung dengan anak-anak yang sedari tadi asyik bermain. Tawa mereka begitu renyah. Begitu menghibur. Tawa anak-anak yang tak lagi peduli apakah kehadiran mereka tidak diharapkan oleh kedua orang tua mereka atau tidak. Karena bagi mereka canda, tawa, suka dan duka diantara merekalah yang menjadi penguat bagi jiwa malaikat-malaikat kecil ini.

Salam Ukhuwah