Image

“Pak mau sulap lagi ya di kelas lima?” ujar Vivi siswa kelas 2 SD. Gadis mungil yang selalu berkepang dua.

“Nggak sayang, sekarang Bapak mau ngajar Matematika” jawab si guru bantu yang sudah lebih dua bulan di sekolah Vivi.

Si guru membawa sebuah kotak besar ke kelas lima, alat peraga sederhana yang terbengkalai di pojok perpustakaan. Anak-anak kelas lain mengira itu adalah seperangkat alat sulap. Apalagi hari kemarin si guru mengajar sambil bermain sulap di kelas. Makanya hingga hari ini kesaktian sang guru menyatukan kembali kertas yang sudah robek masih menjadi buah bibir di anak-anak. Jadilah si guru diekori orang berpuluh-puluh anak menuju ke kelas lima.

Baru saja memasuki kelas, aroma tak sedap langsung menyerang rongga hidung si guru. Ia hanya tersenyum tipis saja. ah nikmati sajalah, wajarlah mereka kan habis berolah raga, bisik si guru, berdamai dengan hatinya.

Ia lihat sekeliling, sebagian masih memakai seragam olah raga yang sudah basah kuyup dengan keringatnya. Si guru tidak menegurnya, biarkan saja. Toh mereka memang tidak membawa pakaian ganti.

“Baik sayang sebelum kita mulai pelajaran kali ini, kita ulangi sebentar pelajaran kemarin, tentang tabung, balok, dan kubus” ujar sang guru.

Tanpa diminta, anak kelas lima kemudian berdiri dan memperagakan gerakan tertentu sambil mengucapkan rumus-rumus yang sudah dipelajari. Sontak semua anak-anak kelas lain yang menunggu permainan sulap di depan pintu kelas, tertawa.

Mungkin karena udara yang panas akibat anak-anak yang sesak di depan pintu, si guru menjadi sedikit emosi. Ia datangi anak-anak di depan pintu dan berjongkok agar sama tinggi dengan mereka.

“Kenapa kalian tertawa sayang?”

Semua diam, tidak ada yang berani biacara.

“Kalian masuk kelas ya, kan sudah bel dari tadi”

“Belum ada gurunya pak” ujar salah seorang siswa.

“Semua guru ada di kantor kok sayang, kalian panggil saja ya. Nah sekarang kalian masuk ke kelas masing-masing. Kalau kalian disini, bapak jadi kepanasan nih di kelas”

Si guru kemudian bangkit memandang lurus ke luar kelas lima, memandang lurus ke depan, ke kantor guru. Ya Allah, mengapa mereka tidak juga segera masuk ke kelas? Tidak sadarkah mereka bahwa sudah menjadi kewajibannya mengajar dengan baik? Tidak kasihankah mereka ke anak-anak yang terbengkalai?

Si guru menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya lagi perlahan. Kemudian melanjutkan pelajaran hingga selesai. 

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi