Image

“Ini pak?” ujar seorang bocah lelaki berusia 9 tahun kepada gurunya.

Ridho, Ia adalah ketua kelas 3 di SDN 27 Air Dikit, Bengkulu Utara. Tubuhnya cungkring, tapi perutnya sedikit buncit. Mungkin kekurangan gizi. Maklum, orang tua Ridho hanya sebagai buruh kasar dengan penghasilan 400ribu perbulan. Uang sebanyak itu harus digunakan untuk makan 6 anggota keluarga. Jelas saja gizi keluarga tidak bisa terpenuhi dengan baik.

“Sudut A pada gambar di samping adalah..” Ridho membacakan soal yang barusan ia tunjukkan ke gurunya.

“Ya udah kerjakan saja yang ini ya Ridho”

Ridho mengangguk dan segera berlari keluar tanpa mengucapkan salam. Namun tiba-tiba ia kembali lagi, “Pak digambar juga nggak pak?”

“Iya Ridho, soalnya digambar ya sayang”

Barulah Ridho berlari keluar kantor menuju kelasnya. Sedangkan sang guru masih di kantor. Ia tidak ada jam pagi ini. Lagian sudah berbulan-bulan sejak kedatangannya di sekolah ini, Ia selalu menjadi guru yang hadir pertama kali. Setiap hari harus menghandle lebih dari satu kelas, Lelah. Ia lelah mencerdaskan bangsa.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumsalam, masuk sayang”

Kini giliran seorang gadis mungil berkepang dua yang datang ke kantor. Ia berjalan ke gurunya dengan menenteng LKS di tangan kiri. Kedua kepang rambutnya bergoyang-goyang.

“Kami pelajaran Bahasa Indonesia pak?” ujar gadis kecil itu sambil menyerahkan LKS kepada gurunya.

“Ini udah sayang?” tanya guru kepadanya, si gadis mungil itu mengangguk, sudah. “Kalau yang ini?”

“Udah juga pak?”

“Terus yang mana dong yang belum?”

Si gadis kecil ini kemudian membuka LKS, halaman 46, “Ini aja ya pak, no 1 sampai 10”

Si guru membaca sebentar kemudian berujar, “Ya udah, dikerjakan ya sayang. Sebentar lagi Bu Eva datang kok”

“Iya pak” gadis mungil itu kemudian berlari keluar.

Sang guru, menarik napas panjang dan menghembuskannya keluar. Ya Allah, mengapa guru-guru di daerah ini selalu saja datang telat. Tidak kah mereka sadar bahwa siswa adalah amanah? Tidakkah mereka sadar bahwa mereka dibayar untuk mendidik dengan baik? lalu bagaimanakah status gaji mereka jika mereka datang telat, mengajar seadanya dan sering malah hanya duduk saja di kantor, tapi selalu ingin pulang duluan? Si guru membatin.

Ia seruput secngkir semangatnya dan kemudian bangkit, Bismillah!!

Salam Ukhuwah, Syaiful Hadi