Beda zaman, beda keinginan. Beda generasi, beda selera. Kalau dulu film Rhoma Irama melegenda, sekarang film The Raid mendunia. Kalau dulu dangdut berdendang indah di seluruh pelosok, sekarang boy/girl band menjajah hingga pedesaan. Repotnya adalah ketika dua generasi ini berkumpul, maka akan sangat susah menyatukan keinginan mereka. Inilah satu pelajaran yang bisa ku ambil dari kejadian kemarin, Senin 28 Mei 2012.

Sejak pagi SDN 01 Kota Bangun sudah ramai, ada acara Porseni PAUD Sekecamatan Sebawi, apalagi acara dibuka langsung oleh wakil bupati Sambas, Pabali Musa. Rombongan wakil Bupati dan peserta PAUD berjalan beriringan melewati jalanan Dusun Kota Bangun diiringi oleh musik khas melayu, Tanjidor. Meriah sekali.

Acara Porseni ini berjalan sangat menarik hingga sore hari. Pagi hari dilakukan lomba mewarnai, menggambar, adzan, membaca doa sehari-hari, lempar bola, dan lari. Anak-anak dan penonton terlihat antusias, terutama dalam lomba cabang olah raga.

Sedangkan malam hari, bermodalkan LCD dan sound sistem yang wah, seorang tokoh warga mengajak ku untuk mengadakan layar tancap, nonton bareng warga. Aku menyetujuinya, apalagi waktu di Tambleg, Banten, aku pernah mengadakan acara yang sama dan penontonnya membludak. Memang sih, waktu di Tambleg dulu, tidak ada listrik di sana, jadi nonton itu sesuatu banget deh untuk mereka. Beda dengan disini yang listriknya sudah 24 jam non stop.

Persiapan ala kadarnya selesai, aku menyediakan tujuh bingkisan doorprize untuk penonton yang mampu menjawab perntanyaan yang ku ajukan.

Sebagai MC, aku bertugas memandu acara dari awal hingga akhir. Ada lima video yang kusiapkan untuk malam kemarin. Tiga video pertama adalah tentang Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa. Mereka antusias menyaksikannya, sesekali tertawa terbahak-bahak ketika melihat aksi-aksi gokil kami selama pendidikan di SGI kemarin. Bahkan ada yang nyeletuk “Kayak anak-anak PAUD!!”. Begitulah, selama pendidikan di SGI kami memang dididik untuk bisa mengajar dengan menyenangkan, memasuki dunia anak-anak. Barulah membawa mereka ke dunia kita.

Biarlah kalian mau bilang kami anak PUAD atau apa, toh anak-anak di sekolah senang. Gumamku.

Berikutnya barulah film utama diputar, Get Merried 3. Sengaja dipilih film ini karena kocak. Harapannya agar warga dan anak-anak suka menyaksikannya. Eh ternyata baru 9 menitan film berjalan, sebagian warga udah berteriak-teriak “Ndul ayo pulang, ajak adikmu! Udah malam”. Aku kecewa, bukan karena Ia pulang, tapi karena Ia berteriak kencang, sehingga warga dan anak-anak yang lain, secara tak langsung juga ikut pulang. Maka sejak itulah beriringan warga pulang ke rumah masing-masing. Sebagian besar memang golongan tua.

“Pak ada film Rhoma Irama nggak?” tanya seorang warga, “Nggak ada pak” jawabku singkat. Ah mana ada film jadul di laptopku. Kalau film-film sekelas Gi Joe, Batman The Dark Night, Iron Man 1 dan 2, Trnasformers 1, 2, dan 3, The Scorpion King, Conan The Barbarian, dll mah lengkap.

Film masih berjalan hingga menit 20an, sekali lagi, orang yang berbeda mendatangiku, “Ada film Rhoma Irama kah pak? Orang-orang tua kecewa nih. Kalau anak-anak dan pemuda sih seneng-seneng aja” ujarnya. “Wah saya nggak punya film Rhoma Irama pak” jawabku.

Memasuki menit ke 30an, penonton sudah menjadi sangat sepi. Hanya tinggal sekitar dua puluhan yang tersisa, itu juga sebagian besar adalah anak-anak dan pemuda. Maka aku memutuskan menghentikan filmnya. Percuma dilanjutkan. Dan sebagai penutup, akupun memutar film yang baru aku buat kemarin, film tentang Kota Bangun. Penonton yang tersisa kembali tertawa dan senang. Syukurlah.

Ketika hendak ku akhiri, ada yang berteriak, “Ganti film aja pak, film yang perang-perang aja”. Aku menolaknya karena sudah jam 9 malam dan tidak banyak lagi yang menyaksikan.

Dari kejadian itu, aku menjadi tahu bahwa Rhoma Irama itu sangat terkenal di sini. Hahaha…

Salam Ukhuwah