Bersama salah satu peserta peragaan busana

Dua hari ini memang menjadi hari yang melelahkan, but its so fun!! Menyaksikan peserta PORSENI PAUD sekecamatan Sebawi unjuk kebolehan, dari adzan, membaca doa sehari-hari, menyanyi, hingga peragaan busana. Di empat ajang inilah aku menjadi juri.

“Pak jadi juri ya” kata panitia kemarin, “Apa aja bu kriteria penilaiannya?” tanyaku yang kaget ditembak tiba-tiba. “Terserah bapak aja lah” ujarnya. Oh my God, it’s the first time! Jadi juri tapi tidak dikasih tahu apapun tentang kriteria penilaiannya.

But so far, semua berjalan baik dan lancar. Pengalaman menjadi panitia dan juri di berbagai kegiatan lomba ketika kuliah memang sangat banyak membantu. Dalam sekejap kriteria penilaian suka-suka saya, selesai. Hahahaha..

Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil tentunya, menyaksikan bocah-bocah mungil dan imut-imut bernyanyi dan peragaan busana di panggung sungguh menggemaskan, jadi pengen punya. Hahaha.. Aku tersadar bahwa usia sudah cukup matang dan harus segera berkeluarga.

Pada ajang peragaan busana dan bernyanyi sebagian besar peserta sudah berani tampil dengan sangat baik dan percaya diri. Tapi ada sebagian kecil juga yang tiba-tiba menangis karena grogi. Wajarlah, namanya juga anak-anak. Bahkan kita yang sudah tua pun terkadang masih suka demam panggung kalau diminta untuk berbicara di depan orang banyak. Sudahlah, mengaku saja.

Mengobati demam panggung atau grogi adalah dengan melawannya langsung, sering-seringlah tampil di depan umum, maka lama kelamaan demam panggung ini akan hilang. Mereka anak-anak PAUD sudah sejak dini berusaha membunuh demam panggung ini. Good job!!

Setelah melakukan beberapa perlombaan, semua undangan dan penonton diajak makan bersama, saprahan (istilah makan bersama, adat melayu Sambas). Undangan dan penonton duduk berenam kemudian makan bersama, tidak boleh mengambil satu potong lauk sendirian, harus nyuil sedikit demi sedikit. Kalian bayangkan saja, tangan yang sudah dari mulut masing-masing itulah yang mereka gunakan untuk nyuil lauk pauk. Seru-seru gimana gitu rasanya. Kalian harus nyoba!

Dari makan bersama ini saya belajar bahwa acara ini juga merupakan ajang silaturahim antar pengurus PAUD sekecamatan Sebawi. Tidak ada perasaan saling berkompetisi satu sama lain, just having fun!!

Memang ada satu PAUD yang getol sekali merekap hasil penilaian juri. Mencatat siapapun yang juara, nama dan asal PAUDnya. Namun hal itu tidak lebih dilakukannya hanya untuk mengevaluasi kinerja pengurus PAUD di tempatnya. Evaluasi ini perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas di PAUD masing-masing menjadi lebih baik lagi.

Selesai pembagian hadiah, diketahui PAUD Permata Harapan keluar sebagai peraih juara terbanyak pada PORSENI kali ini. Sebagai juri, saya nyeletuk ke pengurus PAUD tersebut, “Wah semua diborong nih sama Permata Bunda” kataku.

“Alhamdulillah Pak, kemarin memang kami melakukan seleksi dulu di internal, kemudian yang lolos akan dibina untuk lomba ini. Jadi yang kami kirim adalah yang terbaik dari PAUD kami”. Dari dialog singkat ini, sekali lagi terbukti, Victory Love Preparation.

Kini PORSENI sudah selesai, waktunya beristirahat dan memulihkan tenaga untuk esok hari.

Yang di Bold adalah hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil selama dua hari ini membantu PORSENI PAUD sekecamatan Sebawi. Semoga Bermanfaat!!

Salam Ukhuwah