Setelah dua bulan berada di pedalaman Kalimantan ini, saya mendapati bahwa anak-anak disini sebenarnya juga memiliki kemampuan yang baik. kecerdasan yang tidak kalah jauh dari anak-anak kota, bahkan jika dibandingkan, perilakunya jauh lebih baik dari sebagian besar anak-anak kota. Ternyata akses informasi yang terbatas (terutama internet) memiliki sisi positif dan negatif tersendiri.

Image

Nggak tahu nih anak siapa, tadi asal comot aja dari internet..

Sisi negatifnya adalah anak-anak menjadi kurang wawasannya, mereka hanya tahu dari apa yang disampaikan oleh gurunya di sekolah, tidak ada kesempatan untuk mengetahui lebih banyak. Jika guru hanya punya satu piring, ya satu piring itulah yang akan mereka bawa pulang. Atau bahkan malah jauh lebih sedikit dari itu. Lebih parahnya lagi, orang tua mereka juga umumnya berpendidikan rendah, sehingga tidak bisa memenuhi keingintahuan mereka yang besar. Sedangkan sisi positifnya adalah, anak-anak tidak mendapatkan pengaruh negatif dari Internet, seperti situs porno, kebiasaan-kebiasaan yang tidak bijak, dan sebagainya.

Walau kemampuan antara anak kota dan desa tak berbeda jauh, namun ada beberapa hal yang menjadi perhatian khusus dariku, terkait beberapa hal yang menjadi kekurangan anak-anak desa dibandingkan anak-anak kota. Hal ini tidak hanya terjadi disini, tapi di desaku juga, di pelosok Bengkulu sana.

Pertama, anak-anak desa sebagian besar adalah anak-anak yang gagap teknologi. Jangankan memainkannya, menghidupkannya saja tak mampu. Gagap teknologi ini tidak hanya terjadi pada siswa, tapi hampir pada semua gurunya. Seperti di sekolahku sekarang, ada dua unit komputer dan 1 laptop, namun semuanya tidak bisa dioperasikan. Entahlah rusak atau karena belum diinstall. Sayangnya, untuk urusan instal-menginstal saya juga kurang mahir. Maka komputer dan laptop ini tidak pernah dipakai sejak saya datang hingga sekarang.

Beberapa kali guru-guru juga meminta saya untuk mengajari mereka menggunakan laptop, yah paling tidak untuk bisa menggunakan Microsoft Word dengan baik. “Otak atik saja Pak, nggak usah takut, tidak akan rusak” ujarku kepada guru-guru yang sudah memiliki net book.

Rencanaku, selama setahun disini memang akan mengadakan pelatihan komputer, menulis dan ngeblog untuk guru-guru sekabupaten Sambas, semoga mendapat dukungan.

Kedua, kemampuan berbahasa inggris yang kurang. Di sekolah saya sekarang tidak ada mata pelajaran Bahasa Inggris, berbeda dengan sekolahku di Bogor yang memang sudah ada pelajaran Bahasa Inggris sejak kelas satu. Ketika saya tanya ke kepala sekolah, beliau menjawab “Dulu memang ada bahasa Inggris di sekolah ini, tapi gurunya tidak ada yang mampu mengajar, makanya ditiadakan”.

Dua hal ini adalah kelemahan yang umumnya ada di anak-anak desa. Masih ada lagi sebenarnya, seperti kepercayaan diri yang kurang. Mereka selalu demam panggung kalau diminta untuk unjuk kerja di depan kelas. Tidak semua memang, tapi sebagian besar seperti itulah.

Sedangkan semasa saya sekolah, yang juga anak desa yang sekolah di desa, dua hal itu memang hal yang kurang. SD ku dulu, tidak ada bahasa Ingrris. Saya baru menjumpai pelajaran Bahasa Inggris pertama kali di SMP. Tapi di jaman saya dulu kayaknya memang pelajaran Bahasa Inggris belum ada di SD.

Yang lebih parah adalah komputer. Saya benar-benar gaptek, tidak pernah memegang komputer hingga saya lulus SMP. Jadilah dulu pelajaran komputer adalah momok bagi saya di SMA, selalu mengerikan rasanya kalau sudah masuk ke ruang komputer. Karena memang saya tak bisa apa-apa. sedangkan untuk laptop, saya baru mengenalnya di semester pertama kuliah. Hahaha.. dasar anak desa!!

Salam Ukhuwah