Image

Seiring hilangnya senja, aku tetap memikirkan tentang keberadaanmu. Entah mengapa diri ini demikian merindui dirimu. Diantara hamparan padang impian yang terbentang tak berjarak, hanya dibatasi oleh kedipan mata ini ketika terlelap.

Saat ini kuakhiri lagi rutinitas yang amat melelahkan. Kuberdoa selalu kepada-Nya semoga semua ini bisa mengantarkanku padamu yang kini terdampar di atas guratan takdirku. Entah kapan Dia akan mengijinkanku jatuh cinta padamu, aku hanya berjalan menapaki garis-garis nasib yang kini mulai membekas menjadi kerutan di dahi.

Oh iya, bagaimana kabarmu malam ini? Semoga rembulan di luar sana bisa menyaksikan kita yang saling merindu. Malam ini ketika kupandangi dia, pasti engkau juga sedang menatap lekat sang ratu malam. Percayalah, di sisiku kini hanya ada segenggam harapan tentangmu yang selalu kupegang tak kan pernah kulepas.

Apakah ada yang mencoba menggodamu? Pasti ada, syetan tak kan pernah membiarkan seorang mukminah berjalan sendirian. Keadaanku disini sama, mungkin lebih parah. Semoga engkau tidak akan pernah merasa cemburu, karena memang belum saatnya. Sekali lagi, percayalah kepada Allah bahwa Dia hanya akan mempertemukan engkau untukku.

Entahlah apa perasaan ini sudah pada tempatnya ataukah salah alamat. Aku hanya bisa meyakini satu hal, nurani itu tak kan pernah akan berdusta. Aku yang disini dan engkau yang sedang tertegun di sana pasti menginginkan pertemuan nanti hanya Dia yang mengatur. Tidak akan ada orang ketiga, keempat. Hanya ada Dia diantara kita. karena segala macam hubungan pasti akan berakhir kecuali hubungan karena Dia.

Kita sama-sama berlindung dan berdoa kepada Allah, semoga Dia bisa melebihkan kesabaran kepada kita.

-Dari yang terjaga dipelataran harapan-

Iseng-iseng mengobok-obok tulisan lama, eh nemu tulisan ini.. Di tulis pada 22 Oktober 2009.