Sekitar dua bulan yang lalu, 2 April 2012.

“Pak Syaiful berani tidur di sekolah?” tanya kepala sekolah ketika pertama kali mengajakku survey.

Karena sedang memperhatikan sekeliling, saya menjawab singkat, “Insya Allah berani Pak”

Sekolah dikelilingi oleh hutan sagu dan berjarak sekitar 100an meter dari rumah warga. Jika malam tiba, jelas sekolah menjadi sangat sepi dan mencekam. Suara-suara binatang akan semakin menjadikan suasana menyeramkan. Belum lagi ada suara-suara aneh lainnya di atas atap yang sesekali muncul.

“Nanti pihak sekolah akan meminta beberapa anak deh untuk menemani bapak di sini. Soalnya di sekolah ini angker Pak, di kelas 5 dan kamar mandi itu ada hantunya”

Saya diam, mendengarkan. Memperhatikan kelas 5 yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Tak lama Kemudian ku lihat kepala sekolah masuk ke ruangannya, shalat dan komat kamit di dalam. Saya merapikan beberapa barang bawaan. Sesekali masih memperhatikan ruangan kelas 5. Ah masa sih ada hantunya?

“Sekarang kita pulang dulu Pak Syaiful, besok kita kesini lagi” ajak kepala sekolah, “Oh iya, Tadi sudah bapak bilangin sama penunggunya untuk tidak mengganggu Bapak disini”

Oh jadi tadi shalat dan komat kamit itu berkomunikasi sama penunggu sekolah, gumamku dalam hati agak ragu.

*****

Image

Kiri-Kanan : Tono, Rio, Dandi, Mono

Katanya sekolahku angker, itulah sebabnya mengapa hingga sekarang, setelah dua bulan disini, saya selalu ditemani sama anak-anak. Awalnya, saya melihat ada raut wajah terpaksa dari dua anak yang menemani saya, Tono dan Sudarno. Namun lama-kalamaan mereka betah kemudian mengajak Dandi serta Rio. Kini Orang tua mereka bahkan menyuruh untuk selalu ke sekolah tiap malam, “sekalian ajarin ngaji dan shalat ya pak” pinta orang tua mereka.

Hingga sekarang, inilah empat jagoan yang selalu menemaniku di sekolah,

Budi Hartono. Siswa kelas 6 yang biasa di panggil Tono oleh teman-temannya ini adalah keturunan Jawa. Di Kota Bangun hanya tinggal bersama ibu, sedangkan ayahnya kerja di Kuching, Malaysia. Tono adalah anak yang pintar, beberapa kali saya mengajarinya mengaji dan matematika, ia menjadi anak yang mudah mengerti. Ia juga merupakan anak yang cukup mahir berbahasa Indonesia, sehingga sering sekali Ia menterjemahkan kata-kata yang saya tak paham. Setelah lulus SD ini, katanya ia akan melanjutkan sekolah di Jawa.

Dandi. Siswa kelas 4 ini tinggal bersama kakaknya di sini. Ibunya sudah meninggal ketika ia masih kecil. Sedangkan ayahnya sekarang bekerja di PT, entahlah PT apa, saya bertanya ke Dandi, namun Ia juga tidak tahu dimana pastinya keberadaan sang ayah. Dandi adalah anak yang agak slow learner, dua kali Ia tak naik kelas. Tapi Ia pekerja keras dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia juga menjadi anak yang selalu berusaha melaksanakan shalat lima waktu sepertiku. Bahkan ketika saya bangun di pertigaan malam, beberapa kali ia ikut shalat bersamaku, “Ingin mendoakan emak Pak, biar masuk syurga” begitu katanya.

Sudarno. Teman-temannya biasa memanggil Mono, Ia siswa kelas 5. Di Kota bangun ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Mono ini angin-anginan, kadang mudah sekali menangkap pelajaran yang saya sampaikan, namun sewaktu-waktu menjadi sangat susah. Ia tidak naik kelas sekali. Namun satu yang saya kagumi adalah, ia menjadi anak yang selalu berinisiatif dan manut ke saya. Beres-beres dan bersih-bersih sering ia lakukan tanpa perintahku.

Rio. Ia dicap sebagai siswa yang nakal dan bodoh oleh sebagian besar guru yang ada di sekolah. Lebih dari tiga kali ia tak naik kelas. Memang sesekali ia berulah, namun tak lebih dari ungkapan candaan menurutku. Bahkan saya malah mendapatinya sebagai anak yang cukup cerdas. Mudah mengerti ketika saya menyampaikan sesuatu kepadanya. Kelebihan lainnya adalah, Rio memiliki jiwa pemimpin yang cukup kuat. Ketiga temannya yang lain selalu menuruti setiap usulan dan ajakannya.

Keempatnya selalu hadir, kecuali jika sakit atau ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Kegiatan malam kami di sekolah adalah shalat maghrib, isya, dan shubuh berjamaah, makan bersama, belajar, bermain, atau menonton. Mereka membawa bekal masing-masing setiap sore, sedangkan saya diantar nasi oleh Abduh setiap hari. Acara makan malam bersama ini saya jadikan sebagai ajang berbagi, melatih jiwa mereka untuk saling memberi. Alhamdulillah mereka sukses melewatinya.

Mereka mungkin banyak belajar dari saya, namun sayapun belajar dari mereka. Belajar bagaimana untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang sudah saya dapatkan selama ini, belajar bahwa setiap anak berbeda dan memiliki potensi masing-masing, dan masih banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari mereka. Mari terus belajar, darimanapun dan dari siapapun!!

Salam ukhuwah