Menjalani kehidupan berumah tangga itu seperti memetik bunga mawar merah yang indah dan harum. Untuk mendapatkannya kita harus berhati-hati menghindari duri yang ada di batangnya. Jika tidak, alih-alih mendapat bunga yang indah justru tangan kita malah berdarah-darah. Begitulah, selama ini saya memang menganalogikan pernikahan itu seperti bunga mawar. Dari jauh terlihat indah menawan, tapi jika kita dekati, ternyata ada duri-duri tajam yang siap melukai.

Image

Pun berumah tangga, dari jauh, bagi yang belum menjalani melihat begitu indah sekali jalan berdua, bergandengan tangan atau berboncengan mesra. Tidur dan makan sudah ada yang menemani tidak sendiri lagi. Pulang kerja ada istri yang melayani dan menebar senyum kedamaian. Ah memang indah sekali bukan? Tentu saja.

Tapi sayangnya, kehidupan berumah tangga tidak hanya itu, tidak selamnaya  indah. Selalu ada duri-duri kecil yang kadang melukai. Kehadiran orang ketiga yang kadang mencurigakan, perhatian suami yang mulai berkurang, istri yang lebih sibuk dengan dunia maya daripada dunia nyata, suami yang ternyata pemalas, dan sebagainya.

Berdasarkan hal inilah maka kemudian Islam mengajarkan untuk mempersiapkan ilmu yang cukup sebelum menikah. Lalu ilmu apakah yang harus disiapkan? Jelas ilmu fiqh pernikahan, bagaimana memilih pasangan yang baik, tentang hak dan kewajiban suami dan istri, bagaimana mendidik anak yang baik dan benar, dan sebagainya. Namun yang paling penting, sebelum semua ilmu itu, justru ada dua ilmu yang sangat mendasar untuk dimiliki segera, ilmu Sabar dan Toleransi.

Mengapa demikian?

Ketika sudah menikah barulah kita mengetahui seratus persen bagaimana sifat dan karakter pasangan kita, pastilah ada sifat dan karakternya yang tidak kita sukai. Misal, kita baru tahu ternyata pasangan kita kalau tidur mendengkur, atau memiliki bau badan yang tidak mengasikkan, atau tidak rapi, atau-atau lainnya. Disinilah dibutuhkan kesabaran itu. sabar bukan dalam arti pasif, namun tetap aktif dengan melakukan perbaikan. Memperbaiki semua yang buruk yang baru diketahui. Kan tidak lucu kalau begitu tahu pasangan mendengkur lalu minta cerai. Ada-ada saja.

Menikah juga bukan hanya menyatukan dua manusia yang saling mencintai, namun menyatukan dua keluarga besar. Akan banyak kepala dan pemikiran yang bakal mempengaruhi kehidupan rumah tangga kita. Bahkan sering kali ada perkataan dari keluarga yang kadang menyakitkan kita, disini kita juga butuh kesabaran yang tinggi. Jangan langsung marah ketika ada keluarga istri yang mencemooh kita, sikapi dengan sabar.

Pasti setelah berumah tangga, suatu ketika akan ada silih pendapat dengan pasangan, wajar. Kita ingin A tapi istri inginnya B. Disinilah dibutuhkan sikap toleransi, saling menghargai satu sama lain dan mau mengalah. Selain itu, setelah menikah kita akan hidup bermasyarakat, di titik ini juga toleransi menjadi sangat penting.

Toleransi dan kesabaran sangat berkaitan erat dengan kedewasaan seseorang. Kedewasaan tidak dimiliki oleh semua orang, bahkan orang tua sekalipun belum tentu dewasa jiwanya.

Jika ilmu sabar dan toleransi ini sudah kita kuasai, maka segeralah menikah. Jangan ditunda-tunda. Kalaupun ilmu yang lain masih belum begitu menguasai tidak apa-apa, bisa sambil jalan saat berumah tangga.

*Sedang belajar mendalami ilmu berumah tangga. Salam Ukhuwah