Jika Indonesia Mengajar (IM) menamai pesertanya dengan Pengajar Muda, maka Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa menamai kami sebagai Guru Model. Sebuah harapan yang besar, agar kami menjadi tauladan dan contoh yang baik untuk siswa maupun untuk guru di sekolah tempat kami bertugas. Kami selalu datang lebih awal, disiplin, dan menciptakan pembelajaran yang menarik serta menyenangkan ke semua siswa.

Seperti hari ini, jam 7 pagi belum ada guru yang datang, aku tetap membunyikan bel dan mengumpulkan semua siswa di lapangan. Disiplin harus ditegakkan!!

Image

Berbaris di lapangan sebelum masuk ke kelas

Sudah dua minggu aku melakukan hal demikian. Memberi sedikit kalimat motivasi dan mananyai setiap kelas belajar apa mereka pagi itu. berikutnya aku akan menghandle beberapa kelas sekaligus hingga ada guru yang datang. Pernah suatu hari, lima kelas sekaligus aku yang ngurus. Bolak-balik kesana kemari. Melelahkan.

Pagi ini setelah mengumpulkan mereka di lapangan, mereka ku arahkan untuk masuk ke kelas masing-masing. Aku memegang tiga kelas sekaligus. Kelas 5, 3, dan 1. Kelas 4 pelajaran penjaskes, gurunya sudah datang. Sedangkan kelas 2 dipegang sama guru lainnya yang juga baru datang.

Kelas 1 menulis tegak bersambung, maka aku masuk sebentar menulis Aku Cinta Produk Indonesia di papan tulis, menjelaskan maksud kalimat itu, kemudian menugaskan mereka menulis sebanyak lima kali. Berikutnya masuk ke kelas 3, pelajaran PKn. Mereka aku beri tugas mencatat sebentar agar aku bisa meninggalkannya sejenak ke kelas 5.

Di kelas terakhir, pelajaran Bahasa Indonesia. Aku menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa itu ada empat, mendengarkan, berbicara, menulis, dan membaca. Aku menjelaskan empat kemampuan itu dengan teknik kinetik. Mereka menyukainya. Kamudian aku meminta mereka untuk menulis pengalaman menarik di hari kemarin, minimal setengah halaman. Barulah aku bisa meninggalkan mereka untuk kembali ke kelas 3, menjelaskan sedikit materi PKn.

Tak berapa lama guru kelas satu datang, maka mereka sudah bisa aku tinggalkan. Tinggal dua kelas yang menjadi tanggung jawabku.

Image

Seorang siswa kelas 5 membacakan hasil karyanya di depan kelas

Beberapa lama kemudian, aku kembali ke kelas 5 dan meninggalkan tugas untuk kelas 3. Anak-anak masih sibuk dengan kegiatan menulisnya. Ada yang satu halaman bahkan ada yang lebih. Aku berkeliling mengamati pekerjaan mereka hingga selesai. Selanjutnya mereka ku minta untuk membacakan pengalaman mereka di depan kelas. Gelak tawa dan senyum simpul tercipta mendengar cerita dari teman-teman mereka.

Berikut beberapa kutipan hasil karya siswa kelas 5 ku,

Pada hari kemarin saya menganti baju, setelah menganti baju saya memasak nasi, setelah memasak nasi, saya langsung pergi ke tokoh untuk membeli mi sedap dan telur. Setelah itu saya memasak mi. setelah masak mi, saya nonton televisi…. Setelah.. setelah.. Dan seterusnya.

Pada suatu hari saya pulang sekolah, pulang ke rumah saya langsung menganti baju, sesudah menganti baju saya langsung menjaga warung dengan adik saya. Saya senang memantu ayah dan ibu, saya menjaga warung saat hari hujan. Sesudah hujan saya tetap menjaga warung. Dan seterusnya.

Pada kemaren hari saya sepulang sekolah saya mengganti pakaian. Setelah mengganti pakaian saya makan, habis makan saya mencuci pakaian, setelah mencuci pakaian haripun gelap, cuacapun buruk seperti mau hujan.. dan seterusnya.

Dan masih ada 13 karya siswa ku lainnya, tidak mungkin aku tulis semuanya bukan? Dari karya ini, aku memberi mereka apresiasi, Good Job anak-anak, kalian hebat, padahal tadi bapak hanya minta setengah halaman, tapi kalian membuatnya lebih banyak. Yuk tepuk tangan!! Prok..prok..

Tapi aku juga memberi koreksi secara umum kepada mereka, tidak mengatakan si A lebih bagus dari si B atau sebaliknya. Semuanya bagus!! Begitulah kataku dan mereka senang. Beberapa koreksi dari ku.

  1. Hindari kata Pada suatu hari atau Pada suatu ketika di awal cerita. Jika dalam menggambar, siswa selalu menggambar gunung dua beserta aksesorisnya, maka dalam mengarang cerita, biasanya mereka menggunakan pada suatu hari atau pada suatu ketika, terbukti sebagian siswaku juga melakukan itu.
  2. Hindari penggunaan kata yang berulang. Setelah mengganti baju saya makan, setelah itu tidur, setelah bangun mandi, setelah itu mengaji dst. Cerita menjadi tidak fokus ke satu peristiwa. Semua ingin diceritakan tapi cuma kulitnya saja.
  3. Saya mengajarkan ke mereka untuk bisa fokus ke satu peristiwa dan mengeksplorenya. Saya mencontohkan, Cuaca pagi ini cerah. Matahari bersinar terang dan awan berjalan beriringan. Indah sekali. Saya bersemangat berangkat ke sekolah, hari ini pelajaran Bahasa Indonesia dan IPS. Ketika pelajaran Bahasa Indonesia, kami diminta menulis pengalaman hari kemarin. Bla.. bla.. bla.. anak-anak mengerti dan bertekad akan lebih baik lagi menulis.

Menulis bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi juga tidak susah. Ia adalah sebuah keterampilan yang menjadi mudah karena biasa. Tak banyak memang yang bisa merangkai kata dengan baik dan menjadi enak dibaca, bahkan guru Bahasa Indonesia pun banyak yang tak mampu melakukannya. Padahal menulis adalah salah satu kemampuan berbahasa. Memprihatinkan.

Setelah pembelajaran, siswaku menjadi antusias untuk terus belajar menulis setelah kuceritakan bahwa dengan menulis uangpun bisa datang. Ah, mereka memang selalu menjadi berbinar-binar jika sudah dihubungkan dengan uang. Tidak apa-apalah.

Salam Ukhuwah