Saya selalu yakin bahwa setiap manusia memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna. Begitulah, walau saya diffable (cacat) tapi saya memiliki kemudahan dalam menuntut ilmu, sederetan prestasi akademik menghiasi lembaran biodataku. Selalu menjadi bintang kelas, mendapat IPK memuaskan, Juara olimpiade Kimia sepropinsi, juara lomba Biologi, Juara Science Engeenering Competition IPB, dan masih banyak lagi tentunya.

Karena dinilai sebagai anak yang cerdas, maka sebagian besar teman-teman dan keluarga mendorongku untuk melanjutkan kuliah lagi, agar bisa menjadi dosen dan ahli di bidang pangan. Untuk mewujudkan mimpi itu, sejak kuliah saya sudah aktif mencari beasiswa S2 di dalam maupun di luar negeri. Tercatat beberapa kali saya datang ke rektorat untuk mencari informasi beasiswa.

Image

Koleksi Pribadi

Yakinlah tidak ada usaha yang sia-sia. Dari beberapa kali berkunjung ke rektorat, saya mendapatkan informasi ada seminar beasiswa dari King Abdullah University Science and Technology (KAUST), saya ikut hadir di acara itu dan tertarik. Saya bersemangat melengkapi semua persyaratan, Essay, rekomendasi dari dosen (waktu itu saya mendapatkan rekomendasi dari Prof. Dedi Fardiaz, mantan kepala BPOM), dan sebagainya. Semua berkas saya kirim ke USA.

Beberapa bulan kemudian, pemberitahuan dari KAUST yang saya nantikan datang di email, saya lolos!! Nah untuk melengkapi persyaratan, saya diminta melakukan tes TOEFL IBT. TOEFL ini, kata kakak kelas yang sudah lolos hanya sebagai formalitas, hanya untuk mengetahui kemampuan bahasa inggris saya saja, kalaupun nanti tidak mencukupi, saya akan dikirim ke United Kingdom (UK) atau USA untuk memperbaiki bahasa inggris disana. Saya senang sekali waktu itu.

Malangnya, ketika saya mengambil uang di ATM untuk biaya pendaftaran TOEFL itu, dompet saya malah tertinggal dan hilang. Pendaftaran tes TOEFL IBT harus menggunakan identitas resmi seperti KTP, SIM, atau Pasport, semua hilang bersama dompet. Akibatnya saya tidak bisa mengikuti tes.

Saya menceritakan semua kejadian itu ke KAUST, mereka memberi konpensasi waktu satu bulan, saya harus mengurus KTP baru dan tes TOEFL. Saya membuat KTP baru di Bengkulu. Keluarga saya yang mengurusnya. Entahlah apa sebabnya KTP itu lama sekali jadinya, melebihi batas waktu dari KAUST. Akhirnya KAUST mengirimi saya email lagi dan memberitahu bahwa proses tidak bisa dilanjutkan. Oh birokrasi negeriku….

Saya melupakan KAUST dan melanjutkan kuliah. Melakukan penelitian tentang minyak kelapa sawit, membuat minyak kelapa sawit merah yang kaya beta karoten. Jadilah ketika itu saya satu-satu orang yang bisa memproduksi minyak merah di IPB. Saya lulus tepat waktu dengan nilai sangat memuaskan.

Image

Koleksi Pribadi

Keinginan untuk kuliah kembali bangkit, saya mencari informasi ke Prof Dedi Fardiaz, dan dosen yang lain. Sekitar awal tahun 2011 saya ditawari S2 ke Universiti Sains Malaysia (USM), program penelitian. Saya hanya melakukan penelitian dan beberapa kali seminar, gelar Master bisa diperoleh. Semua persyaratan saya lengkapi.

Keputusan dari USM cukup lama datangnya, saya was-was. Makanya saya mencoba ikut program SGI Dompet Dhuafa, menjadi guru model di daerah marginal Indonesia, dan lolos. Saya sempat bingung ketika itu, namun dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya menandatangani kontrak di SGI hingga Maret 2013. Toh panggilan dari USM tak kunjung datang.

Malang, baru satu bulan di SGI, surat panggilan dari USM tiba dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dua kesempatan emas untuk melanjutkan kuliah gratis melayang saat sepertinya sudah berada di depan mata. Ah sudahlah, memang belum rejekiku.

Kini keinginan untuk melanjutkan kuliah masih menggebu di dada, dan semoga setelah menyelesaikan amanah dari SGI Dompet Dhuafa, saya bisa mewujudkannya. 

Salam Ukhuwah