Image

Jujur itu ada caranya, nggak asal-asalan

Ketika istirahat kemarin, ane dan beberapa teman guru ngobrol ngalor ngidul nggak tentu arah, tentang keluarga, masakan, arisan, dsb. Lebih banyak nggosip sih sebenernya. Makanya ane lebih banyak diam dan fokus menulis saja. Tapi tiba-tiba kuping ane nangkep kalimat yang menurut ane gak pas, begini, “Biarin aja dia sakit hati, kita kan ngomong apa adanya. Jujurlah walau terkadang jujur itu menyakitkan”, Ane perhatiin tuh orang yang ngomong, dari intonasi dan ekspresi wajahnya memang terpancar semangat yang membara, tapi semangat untuk menyakiti orang lain, bukan semangat untuk senantiasa jujur, entahlah.

Ane yang lagi asik nulis ngerasa ada yang nggak pas, langsung deh komen, “Kita memang harus jujur, tapi nggak boleh menyakiti hati orang lain”.

Yap. ente semua pasti sering mendengar kalimat ini bukan? Berkatalah jujur walau jujur itu terkadang menyakitkan. yang jadi masalah berikutnya adalah, menyakitkan itu untuk siapa? Untuk ente yang ngomong atau untuk orang lain yang mendengar? Ada dua kemungkinan memang, Kemungkinan pertama, berkatalah jujur walau terkadang jujur itu menyakitkan bagi yang mendengar, atau kemungkinan kedua, berkatalah jujur walau terkadang jujur itu menyakitkan dirimu yang berkata jujur. Ane sih lebih memilih yang kedua.

Kalimat pertama, ente dianjurkan jujur tapi menyakiti orang lain. Inikan bertentangan ama moral dan akhlak dalam masyarakat, bukankah kite harus menjaga perasaan orang lain, jangan sampai omongan ente menyakiti perasaannya. Jujur memang perlu, tapi nggak boleh menyakitin orang lain.

Lawan jujur kan dusta tuh, jelas kita nggak boleh berdusta. Tapi ternyata ada loh tiga dusta yang diperbolehkan, salah satunya adalah dusta untuk menyenangkan hati suami atau istri. Misal, ketika ente pulang kerja dan lelah mendera, kemudian bini ente ngajak makan dan ternyata masakannya nggak enak sama sekali, gan!! Kebayang nggak sih, lagi capek-capek pulang kerja, eh malah di suguhin masakan nggak enak sama sekali. Pada kondisi ini ente dianjurkan berbohong, walau mungkin emosi ente udah nyampe ubun-ubun, “Sayang, masakan kamu sore ini enak sekali” atau “mama pinter deh masaknya, papa suka masakan mama” dan ente meneruskan memakan makanan yang tak enak itu, yakin deh pasangan anda bakal klepek-klepek.

Coba bayangin apa yang terjadi kalau ente waktu itu menerapkan berkatalah jujur walau terkadang jujur itu menyakitkan bagi orang yang mendengarnya. Ente bisa aja berujar, “Masakan apa ini? Nggak ada enaknya sama sekali!” sambil meludah-ludah, mengeluarkan semua makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulut, atau “Mama gak bisa masak ya? ini gak enak sama sekali” atau bahkan yang lembut sekalipun “Sayang masakannya kok gak enak ya? Papa gak jadi makan deh ya. Nanti kita beli makanan di luar aja”. Ane yakin, tuh pasangan ente seketika itu juga langsung kecewa. Apalagi kalau hal seperti ini, jujur tapi menyakiti, nggak cuma sekali terjadi dalam rumah tangga ente, Ane khawatir keluarga menjadi tak harmonis.

Dalam kehidupan sehari-hari, misal ente bertemu dengan teman di kantor, hari ini teman ente itu memakai busana yang nggak serasi sama sekali, pokoknya jelek. Di tambah lagi tampangnya yang memang pas-pasan, apakah ente akan mengatakan “Hari ini kamu kok jelek banget sih?”, ente memang jujur, tapi teman ente sakit hati.

Beda kasus memang kalau ente diminta menjadi saksi dalam pengadilan korupsi, saat itu ente harus berkata jujur walau teman ente yang sedang duduk di kursi pesakitan akan sakit hati.

Ane hanya mengajak untuk menjadi lebih bijak dalam segala hal. Semoga tulisan ringan ini bermanfaat.