Image

Bersama dua siswaku yang istimewa

Semua orang berbeda, tidak ada yang sama. Menurut ane itu salah satu keajaiban dan kebesaran Allah. Coba ente bayangkan, seluruh manusia yang ada di dunia ini, tak satupun ada wajahnya yang sama, bukan? Siapa coba yang bisa buat kayak gitu kalau bukan Allah. Bahkan kembar sekalipun, selalu ada yang berbeda dalam dirinya. Perbedaan ini bisa di perbedaan fisik, sifat, suara, tinggi badan, berat badan, karakter, de el el.

Nah karena setiap manusia itu berbeda, maka berbeda pula cara memperlakukannya. Nggak boleh disamakan dong. Kalau kata Salim A Fillah dalam bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah, ukuran sepatu setiap orang itu berbeda, maka tidak bisa kita paksakan ukuran tertentu ke orang lain. jika kekecilan maka kaki akan sakit dan mudah lecet, tapi jika kebesaran, maka juga tak nyaman jika berjalan.

Begitupun siswa dalam satu kelas, nggak ada yang sama, gan. Jika ada dua puluh siswa maka ada dua puluh perbedaan juga, entah itu perbedaan fisik, sikap, kebiasaan, karakter, dan cara belajar siswa. Inilah beratnya tanggung jawab menjadi seorang guru, mereka harus bisa mengakomodir semua kebutuhan siswa. Parahnya, tanggung jawab yang berat ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang mereka peroleh, begitulah kebanyakan guru mengadu ke ane. Kayak ane bisa ngasih solusi aja, padahal ane juga gak bisa berbuat apa-apa.

Maka untuk ente semua nih ya, jangan sekali-kali meremehkan guru, gan. Walau mereka kadang tidak professional mengajar, mereka tetap berjasa. Memang mencari guru ideal yang bisa mengajar dengan sempurna, bak mencari jarum dalam tumpukan jerami, susah gan!! Suer!!

Tanggung jawab guru akan semakin berat jika ternyata dalam kelas ada anak yang berkebutuhan khusus (ABK). ABK tidak bisa diperlakukan sama dengan anak normal. Mereka harus diperlakukan khusus. Jelas dong, namanya juga Anak Berkebutuhan Khusus.

Kayak waktu ane ngajar di Sekolah Islam ternama di Bogor beberapa bulan yang lalu. Ane pernah mengajar kelas yang ada anak ABKnya. Satu anak nggak bisa diem, jalan kesana kemari terus sepanjang KBM berlangsung, keluar masuk kelas, dan kalau menulis itu nggak mau di atas meja, ia akan tiduran di lantai sambil menulis.

Bukan hanya itu, Ada satu anak lagi yang yang juga berbeda, dia nggak mau belajar kalau tidak diperhatikan. Kayaknya sih nih anak kurang perhatian di keluarganya. Akhirnya kalau ane ngajar di kelasnya, ane pasti memintanya untuk maju ke depan dan duduk di bangku ane. Anak yang di cap sebagai anak nakal ini ternyata mudah menangkap pelajaran yang ane sampaikan. Dia hanya butuh perhatian lebih. Itu kisah ane mengajar dua anak ABK gan, seru gimana gitu rasanya.

Sedangkan di sini, ada anak kelas empat yang konon pernah tidak naik kelas. Beberapa guru memang mengakui ia lamban dalam menangkap pelajaran yang disampaikan, istilah kerennya slow learner gan. Tapi kemarin justru Ia menjadi perwakilan Kecamatan Sebawi untuk mengikuti lomba bidang atletik di Kabupaten Sambas. Tentu sebuah prestasi yang membanggakan bukan? Sebuah sekolah di pedalaman tapi menelurkan perwakilan ke kabupaten untuk sebuah lomba.

Kita semua harus sadar bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada, semua anak cerdas tapi berbeda kecerdasannya, ada anak yang cerdas musikalnya, cerdas kinetiknya, cerdas interpersonal, dsb.

Juga tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah anak yang aktif dengan berjuta kreativitasnya. Guru yang baik seharusnya bisa mengarahkan semua potensi siswanya dengan bijak. Susah sih, tapi ya berusaha dong, jangan justru memberi label negatif ke siswa yang slow learner.

Salam Ukhuwah