“imbalan terbaik bagi seorang guru adalah menyadari bahwa hidup singkatnya memberikan perubahan bagi anak didiknya”

Syaiha, 2012

Di saat anggota dewan sibuk dengan anggaran biaya yang menggila, sibuk dengan urusan kemewahan pribadi, gila hormat, makan gaji buta, dan kroupsi, ternyata di sudut negeri ini ada guru yang juga sibuk dengan amanahnya, mencerdaskan kehidupan bangsa. Dia tidak pusing atau lebih tepatnya tidak memusingkan dengan gaji bulanan yang hanya 500ribu, baginya membuat anak didiknya cerdas lebih dari segalanya, imbalan terbaik bagi seorang guru adalah menyadari bahwa hidupnya yang singkat ini mampu mengubah kehidupan orang lain, anak didiknya menjadi lebih baik. Jangan bertanya apakah cukup uang 500ribu itu untuk kehidupannya, Dia yang mencukupkan. Yang pasti jelas jauh dari kata mewah.

Aku tertegun, takjub, bangga, masih ada guru-guru hebat sepertinya, mengajar setelah jam selesai, untuk beberapa orang anak saja, mengajarkan gerbang pengetahuan, membaca. Enji, bocah bertubuh kecil ini masih belum bisa membaca, padahal teman-teman yang lainnya sudah lancar. Enji mendapat jam tambahan khusus setelah pulang sekolah, setiap hari. Dan ibu Ita setia mengajarinya.

Suasana kelas sudah lengang, anak-anak yang lain sudah pulang dengan jemputan mereka masing-masing. tapi di ruangan itu ada suara lirih, aku penasaran.

“saya berlibur ke kebun binatang” suara bocah, imut sekali.

Aku menoleh ke dalam ruangan, Enji dan bu Ita duduk berdampingan. Sabar, ibu Ita membimbing Enji membaca. Tangan kanan memegang ballpoint, menunjuk setiap jengkal yang di baca Enji. Aku meminta izin masuk dan memperhatikan. Luar biasa.

Pemandangan ini mungkin biasa di sekolah-sekolah, sudah tanggung jawab guru membuat anak didiknya bisa membaca. Apalagi ada bonus dari les tambahan ini, akan menjadi lumrah saja. Tapi kali ini berbeda, bu Ita tanpa tambahan gaji dan bonus, tetap dengan semangat dan senyuman setia mengajari Enji membaca.

Semangat buat Enji!! Bu Ita, semoga kelak kehidupanmu menjadi lebih baik.