seberapapun aktifnya siswa di kelas, mereka tidak pernah salah. Wajar, karena mereka masih anak-anak. Jika harus ada yang dipersalahkan, itu adalah kita, gurunya

Syaiha, 2012

(diriku dan salah satu siswa kelas IIIA)

Hari ini mendapat kesempatan untuk melakukan observasi di sebuah sekolah dasar Islam ternama di bilangan Bogor, kelas IIIA. Aku masuk ketika pelajaran PKn sedang berlangsung. Anak-anak riuh, gaduh, berlarian kesana kemari, sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang menjahili teman sebelahnya, ada yang menggambar tidak berbentuk, ada yang sibuk menarik-narik ingusnya yang mau keluar dari lubang hidung, sayang. Seketika kesibukan itu berhenti saat kakiku masuk ke ruangan, heran melihat lelaki rapi dan gagah ini masuk.

“silahkan masuk pak Syaiful” ibu Yuli, guru kelas tiga mempersilahkanku masuk dengan senyuman terukir indah di bibirnya.

Aku membalas senyumannya, juga dengan snyuman terindah.

“ibu, izinkan hari ini saya belajar di kelas ini. Bolehkan saya duduk di belakang?”

“sebentar pak, kalau bisa perkenalan dulu ke anak-anak”

Aku setuju. Dengan semangat dan suara yang lantang, aku menyapa dengan beberapa yel-yel, kesibukan masing-masing anak terhenti dan kini semua mata, termasuk sepasang mata bu Yuli serentak menuju ke satu arah, diriku. Aku semakin bersemangat.

Setelah perkenalan selesai, hendak duduk, tiba-tiba ibu Yuli menodongku untuk mengajar bahasa Inggris.

“Gurunya tidak masuk pak” ibu Yuli memohon. Aku luluh.

Mulailah aku mengajar bahasa Inggris, tentang Transportation. Walau aku salah, mengajar tidak menggunakan RPP, melanggar ilmu yang sudah di dapat selama pendidikan kemarin di SGEI, semakin diperparah tanpa persiapan apapun dan tanpa alat peraga apapun, tapi anak-anak tetap mengikuti pelajaran dengan gembira dan antusias, alhamdulillah.

Bahasa Inggris selesai dan dilanjutkan pelajaran Matematika, aku memperhatikan di kursi yang disediakan oleh bu Yuli. Kali ini tentang pecahan, membandingkan dua atau lebih pecahan, memilih mana yang lebih besar atau mana yang lebih kecil dari dua atau lebih pecahan itu. Aku paham, ini sebuah pekerjaan yang berat, materi yang susah bagi anak-anak kelas III, kasihan mereka. Terlihat raut-raut wajah tak mengerti dan bingung. Aku diam, menyimak.

(soal Matematika no 3)

Hingga sampai pada soal no 3 saat latihan, bu Yuli salah mengerjakan soal di depan, mungkin grogi karena ada aku di kelas. Aku masih diam, tidak baik menyalahkan guru di depan anak-anak, wibawanya akan turun. Ketika jam istirahatlah aku mendekati bu Yuli dan menjelaskan bahwa ada yang salah, untungnya guru senior ini dengan lapang dada menerima masukan dariku. Dan berjanji akan menjelaskan ulang di depan kelas setelah jam istirahat.

(penjelasanku ke ibu Yuli)

Namun, lagi-lagi, bu Yuli memintaku untuk menjelaskan di depan kelas. Padahal sebelum istirahat tadi beliau sudah bersedia menjelaskan di depan kelas. Ah, selalu saja begini, menodongku tiba-tiba, gumamku.

“baik sayang, sekarang perhatikan bapak ya.. bapak akan bahas soal no 3 tadi. Ayo keluarkan buku, penggaris, pensil, dan penghapusnya ya sayang..” aku berteriak lantang.

Mulailah aku menjelaskan cara membandingkan pecahan dengan sarana seadanya, spidol dan penggaris. Aku menjelaskannya dengan menggambar garis bilangan, membagi garis bilangan sesuai dengan penyebut di setiap pecahan. Kemudian mengarsir sejumlah pecahan dalam soal. Terakhir, membandingkan satu dengan yang lainnya. Pecahan yang paling besar akan memiliki garis bilangan paling panjang. Selesai.

Aku menjelaskan sepelan mungkin, satu jam, 60 menit, hanya aku gunakan untuk satu soal. Sengaja, karena khawatir ada anak yang tidak bisa mengikuti jika penjelasanku terlalu cepat. Andai saja ada alat peraga sederhana yang ku siapkan, pasti semuanya akan lebih mudah.

Ketika akan menutup pelajaran untuk sholat zhuhur, aku terkejut. Gilang, anak yang sejak pagi tadi duduk di sebelah kursiku, menangis. Aku mendekatinya.

“ada apa sayang?” tanyaku.

Gilang diam, sesenggukan. Ingusnya keluar.

“Cerita sama bapak, ada apa sayang?” aku mengusap kepalanya.

“Gilang belum mengerti pak” jawabnya, masih dengan sesenggukan.

Deg. Aku tertegun, diam sejenak. Bingung. Merasa bersalah. Campur aduk. Bagiku, anak-anak SD betapapun aktifnya Ia di kelas, mereka tidak pernah salah. Wajar saja, namanya juga anak-anak. Selambat apapun mereka dalam menerima pelajaran, mereka tidak pernah salah. Akulah yang salah. Maafkan bapak, Gilang.