saya sangat senang belajar dan berpikir bahwa saya hidup untuk mengajar, saya memiliki antusiasme, pengetahuan, dan cinta untuk mengajar anak-anak

Harris, 2001

Ini adalah alasan kedua mengapa aku yang bukan S.Pd memilih untuk menjadi guru dan mengajar, karena saya cinta mengajar. Ada kebahagiaan tersendiri jika orang yang aku ajari mengangguk-angguk mengerti, ada rasa puas. Dan imbalan terbaik bagi seorang pengajar adalah ketika kita sadar bahwa hidup kita yang sekali ini mampu memberikan perubahan dalam kehidupan seseorang.

Kemampuan mengajarku, secara tidak langsung sudah dilatih sejak masih duduk di bangku SMP, sering diminta guru SMP, bu Nani Zulhani, untuk menggantikannya mengajar di kelas jika beliau berhalangan masuk. Sejak saat itu, aku jatuh cinta, mengajar itu mengasikkan.

Semasa SMA, ibu Masnun, guru kimiaku yang menjebloskanku ke kelompok olimpiade kimia, sudah memberikan bimbingan khusus kimia, akibatnya saya yang masih duduk di kelas satu sudah melahap materi kelas dua dan tiga. Ketika kelas dua, saya sudah sangat paham dengan materi kimia, nah kebetulan guru kimia kelas dua sedang hamil tua, sering tidak bisa masuk, jadilah aku mengajar di depan kelas, jadi tentor sebaya di hadapan teman-teman sekelas. Aku semakin cinta mengajar.

Sejak SMA aku sudah berpisah jauh dari orang tua dan bersama beberapa teman kami mengontrak rumah. Rumah sederhana, bahkan lebih mirip gudang. Tapi sejelek apapun rumah itu, tetap menjadi markas bagi teman-teman untuk sekedar melepas lelah, bolos sekolah, main playstation semalaman, nonton bareng, dan belajar. Setiap akan mendekati ujian, rumah kontrakanku akan ramai dikunjungi oleh teman-teman, bahkan sampai menginap. Aku sebagai tuan rumah juga berperan sebagai tentor buat mereka, mereka cukup menyediakan sesaji saja, makanan ringan dan soft drink, mengasikkan. Aku semakin cinta mengajar.

Semasa kuliah, kecintaanku mengajar kembali meningkat. Pernah diminta untuk mengajar kimia dasar untuk mahasiswa Malaysia yang kuliah di IPB, dan tahukah kalian, mereka jauh dari kata pintar. Tapi mereka percaya diri. Di akhir-akhir masa kuliah aku bersama teman membuka privat SD hingga SMA, responnya luar biasa. Aku, lagi-lagi mengajar kimia dan berhasil meningkatkan nilai prestasi siswaku. Orang tua mereka sampai secara khusus mengucapkan terimakasih kepadaku, aku terharu. Lagi, aku semakin cinta mengajar.

Kini aku memutuskan masuk ke program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa, menjadi guru model berkarakter pemimpin. Disinilah aku mendapatkan kompetensi dan karakter guru yang baik. Bertemu anak-anak setiap hari, semakin membuatku semakin cinta mengajar.

Pembaca sekalian, di dunia ini hanya ada dua kemungkinan, cintai yang kamu kerjakan atau kerjakanlah apa yang kamu cintai. Kini pilihannya ada di diri kita masing-masing, selamat memilih.