dua sumber yang jangan dipercayai 100 persen, Polisi dan Media

Anonim, 2011

Sayang sekali jika otak tidak digunakan untuk berpikir kritis dalam merespon apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika kita hanya mengangguk-angguk setuju dengan semua yang diberitakan di televisi, maka otak hanya akan menjadi hiasan mahal yang tersimpan dalam tengkorak kepala kita, menyedihkan.

Di era sekarang, dimana informasi menjadi penting, kita memang harus sebanyak mungkin mengakses informasi dari manapun, namun tidak serta merta menelannya bulat-bulat. Sepertinya kita tidak terlalu lugu untuk melakukan semua itu. kita harus paham tentang menajemen berita, seperti mengapa berita tentang AAL si pencuri sendal menjadi berita yang sering sekali ditayangkan?  Berita-berita kelas teri sengaja dimunculkan untuk menutupi berita kelas kakap yang belum selesai hingga sekarang.

Adakah yang tahu nasib kasus Century? Bagaimana pula nyanyian Nazarudin? Kasus Nunun? Melinda? Gayus Tambunan? Dan seabrek kasus yang sepertinya sengaja di tutupi demi kepentingan segelintir penguasa.

Di Negeri ini, jangan percaya kepada dua sumber, Polisi dan Media” kata seorang sahabat suatu ketika dan sepertinya saya sepakat. Saya tidak percaya sepenuhnya dengan polisi dan media.

Media yang seharusnya menjadi ranah publik, kini semakin berkiblat ke beberapa golongan saja, apalagi jika golongan itu adalah pemilik media tersebut, maka bisa dipastikan semua yang ditayangkan adalah berita-berita yang tidak menjelekkan namanya, bahkan secara jelas dan gamblang media itu digunakan untuk menggiring opini publik demi kepentingannya, memenangkan PEMILU 2014.

Lihat saja Trans Corp yang menjadi payung saluran televisi Trans TV dan Trans 7 serta media online detikCom dan myTrans. Trans Corp dimiliki oleh pengusaha nasional Chairul Tanjung yang diisukan di akhir tahun 2011 sempat didekati oleh PKS untuk diusung menjadi calon presiden di PEMILU 2014, walau kemudian yang bersangkutan mengatakan tidak ingin terjun ke dunia politik. Tapi siapa yang tahu nanti, bisa saja keputusannya berubah karena ingin mencicipi toilet seharga 2 miliar. Who knows. Mengapa PKS mendekati Chairul Tanjung? Aku sendiri tak tahu, mungkin saja PKS sadar bahwa media adalah sarana hebat yang bisa digunakan untuk memenangkan PEMILU 2014. Entahlah.

Yang paling jelas ada Metro TV nya Surya Paloh. Secara terang-terangan mengiklankan partai barunya Nasional Demokrat. Bahkan partai yang masih bayi ini sudah mencanangkan untuk memenangkan PEMILU 2014, minimal masuk 3 besar agar Surya Paloh bisa dicalonkan sebagai calon presiden.

Kemudian, TV One dan ANTV yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh keluarga Bakrie. Kita semua tahu bahwa di tahun 2014 Aburizal Bakrie akan mencalonkan diri menjadi presiden, maka kekuatan media yang dimilikinya pasti juga akan dioptimalkan untuk menggiring opini publik untuk memilihnya, kita tunggu saja.

Dan terakhir adalah MNC Group yang dimiliki oleh Hari Tanoe Soedibjo. Kini dikabarkan Hari Tanoe Sudibjo sudah mulai mendekat ke NasDem, bisa dibayangkan jika dua kekuatan besar ini bersatu, NasDem partai yang masih bayi ini bisa saja menjadi pemenang di PEMILU 2014.

Menilik kepemilikan media yang dikuasai oleh beberapa golongan yang ambisius menjadi pemimpin negeri ini kelak, maka mari untuk tidak terlalu lugu menelan bulat-bulat berita yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Kita cukup percaya maksimal 50 persen saja, sisanya silahkan analisis sendiri. Mungkin itu akan lebih bijak.