imbalan paling berharga dari mengajar adalah mengetahui bahwa hidup anda memberi perubahan yang luar biasa bagi anak didik anda

William Ayers, 2001

Aku jebolan Institut Pertanian Bogor, jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan. Jurusan yang kata orang adalah jurusan orang-orang hebat, cerdas. Semua itu adalah penilaian orang lain, aku tidak merasa cerdas, masih harus banyak belajar dari manapun dan dari siapapun. Jelas tidak ada basic keguruan yang aku jalani selama pendidikan. Tapi kini, saya menjadi seorang guru, bukan guru biasa, tapi guru yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil di pelosok Indonesia.

Mengapa saya mau menjadi seorang guru? Mengapa saya mau mengajar?

Aku adalah anak desa, yang hingga kini desaku masih tidak 24 jam tersentuh listrik, jauh dari kata modern. Tidak ada tempat hiburan, tidak ada mall, tidak ada bioskop, dan lain-lain. yang ada hanya hamparan luas perkebunan kelapa sawit. Tapi aku bersyukur karena sejak SMA aku sudah berani jauh dari orang tua untuk melanjutkan SMA di kota Propinsi yang membutuhkan waktu 7 hingga 8 jam perjalanan dengan mobil. Tidak ada saudara di sana, maka sejak itulah aku belajar hidup mandiri. Semua ku kerjakan sendiri, termasuk mencuci dan memasak.

Semua bermula ketika guru matematika SMPku, ibu Nani Zulhani memprovokasi untuk melanjutkan ke SMA favorit di kota propinsi. Sayang kalau otak secerdas kamu hanya sekolah di SMA kecamatan. Di propinsi akan banyak lomba yang bisa diikuti, akan banyak tantangan yang mengasikkan, akan banyak saingan untuk membuat prestasi jauh lebih berharga. Itu kalimat bu Nani Zulhani, menggodaku. Sempat berdebat dengan almarhum ayah untuk sekolah ke kota Propinsi, aku menang. Tapi aku tidak diantar, harus ke kota dan mendaftar sendiri. Sempat ciut nyaliku. Untungnya bu Nani bersedia menemani dan mendaftarkanku. Aku masuk di SMA N 5 Kota Bengkulu, SMA terbaik sepropinsi Bengkulu.

Satu episode hebat bagiku, ibu Nani Zulhani memberikan sebuah loncatan perubahan dahsyat dalam hidupku.

Di SMA aku benar-benar menjadi anak yang sering melongo. Hampir semua teman punya hape, aku?? jangankan punya, itu pertama kalinya aku melihat kotak ajaib itu. Di desaku tidak ada. Belum lagi anggapanku tentang anak-anak yang berkacamata tebal, mereka pasti pintar, pikirku ketika itu. baru setelah satu bulan aku tahu, kacamata tebal tidak menjamin anak itu pintar atau tidak. Mereka berkacamata tebal biasanya karena sering main game dan membaca komik sambil tiduran. Maklum, di desaku, untuk anak seusiaku dulu, tidak ada yang berkacamata minus.

Berkat rasa penasaran yang tinggi dan kegigihanku mengikuti semua pelajaran dengan antusias, aku lolos ke kelompok Olimpiade Kimia, ICHO, International Chemistry Olimpiade. Guru kimiaku, ibu Masnun kagum dengan kemampuanku dan memintaku secara pribadi untuk bergabung. Padahal yang lain harus tes dahulu, aku tidak.

Di SMA banyak prestasi yang ku ukir, sebagian besar adalah lomba mata pelajaran Kimia, benar kata ibu Nani Zulhani, akan banyak lomba yang bisa aku ikuti disini. Puncaknya, kelas dua akhir, aku menjadi juara II olimpiade kimia sepropinsi Bengkulu.

Satu episode hebat lagi dalam hidupku, ibu Masnun memberikan sebuah loncatan perubahan dahsyat berikutnya dalam hidupku.

Basicku memang bukan dari keguruan, bukan S.Pd, tapi S.TP. tapi ingatan yang inspiratif dari kedua guruku di atas membawaku ingin juga menjadi guru, menjadi inspirator bagi semua muridku untuk menjadi lebih baik. Hubungan positif antara aku dan kedua guruku di atas telah menjadi katalis untuk keputusanku menjadi seorang guru.