Guru yang paling hebat adalah guru SD, terutama guru kelas satu SD. Merekalah yang meletakkan batu pertama pendidikan di jiwa generasi penerus bangsa ini. Memang ada PAUD dan TK, tapi menurutku itu baru pra pendidikan, lebih diutamakan untuk bermain, walau tidak bisa dipungkiri jaman sekarang PAUD dan TK juga sudah sedikit banyak menyisipkan pendidikan, belajar membaca dan berhitung. Jika dianalogikan dalam sebuah bangunan, PAUD dan TK hanya menggali lobang untuk membuat pondasinya. Sedangkan SD adalah pondasi itu.

Mengapa guru SD itu hebat? Karena mereka mengajarkan sesuatu dari yang tidak tau menjadi tau, dari yang tidak ada menjadi ada, membaca. Inilah kemampuan krusial yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan mulai dini. Dengan kemampuan membaca inilah semua ilmu yang lain bisa diserap dengan mudah.

Dan hari ini, saya menyaksikan sendiri kehebatan seorang guru SD, guru kelas IA di SDIT Birrul Walidain, Bogor, Ibu Ita. Ia telah berhasil mengajarkan 28 siswanya membaca, hanya ada dua orang yang masih belum lancar, mereka diberi jam tambahan untuk melancarkan kemampuan membacanya, sebuah tanggung jawab yang dijalankan sempurna.

Saya yakin kesabaran dan cinta sangat dibutuhkan dalam mengajar kelas IA. Betapa tidak? di kelas ini, walau siswanya hanya 28 orang tapi ada tiga orang yang sangat aktif, Dio, Faris, dan Dava R.

Dio, anak bertubuh gempal ini sebentar-sebentar lari kesana kemari, meminta gendong ke guru dan berteriak-teriak. Bu Ita dan seorang shadow teacher kewalahan mengatasinya. Tugas yang diberikan jarang selesai dikerjakan, Dio butuh perhatian lebih. Maka hari ini saya sebagai guru yang magang di sana, mendekati Dio. Kewalahan.

Faris, tubuhnya lebih besar dari Dio, tapi sangat manja. Semuanya minta bantuan ke saya. Mengembalikan lengan bajunya seperti semula setelah wudhu juga meminta saya yang melakukannya, mengambilkan nasi, dan masih banyak lagi. Mungkin kehidupan di rumahnya yang menjadikannya seperti itu, entahlah.

Sedangkan Dava R, terlihat memiliki kemampuan otak yang di atas rata-rata dan sangat percaya diri, selalu angkat tangan jika ada pertanyaan dari ibu Ita, tak peduli salah atau tidak, Dava R, akan dengan lantang menjawab. Masalahnya adalah, Dava selalu berteriak dengan suara yang juga di atas rata-rata. jika Ia sudah berteriak, maka yang lain akan ikut berteriak juga, berisik sekali.

Memang, hanya tiga anak yang sangat aktif di kelas ini, aktif dalam artian melewati batas-batas kewajaran. Namun ketiga anak ini adalah motor penggerak yang lain, jika salah satu dari mereka berulah, maka yang lain akan mengikuti dan kelas menjadi riuh. Kasihan bu Ita. Itulah sebabnya (mungkin) mengapa Dio dan Faris diberi tempat duduk paling depan, agar bisa dikontrol dan tidak menimbulkan kegaduhan setiap saat.

Dan bu Ita berhasil, dengan kondisi kelas yang sesekali bisa saja berubah riuh tak terkendali, ia berhasil membuat semua siswanya kini bisa membaca, pasti perjuangannya juga luar biasa mengajarkan mereka membaca. Selamat ibu Ita! Teruslah berkarya.