Disini, pantai Sawarna dan langit terlihat indah. Seaakan tidak ada pembatas diantara keduanya, biru menyatu. Hamparan bukit yang hijau menjadikan keindahan alam semakin mempesona. Segumpalan awan berjalan perlahan-lahan tertiup angin, kompak. Sesekali terlihat pula serombongan burung walet terbang berputar-putar. Hilang dan muncul tiba-tiba, seakan sedang menikmati segarnya udara di sini, jauh dari polusi. Mengasikkan sekali. Disini, manusia mungkin akan menyadari betapa kecilnya Ia, tidak ada apa-apanya, hanya setitik kecil yang berjalan kesana kemari di muka bumi. Dan disinilah satu-satunya titik yang  sinyal handphoneku penuh. Di SMP Satu Atap 8 Bayah, Kampung Tambleg.

Sudah dua hari ini aku betah duduk di teras SMP ini sendirian, merenung dan menulis. Menulis apa saja. Tentang keindahan, tentang makna kehidupan, dan saat ini aku ingin menulis tentang SMP ini, sebuah pabrik pembentuk generasi hebat nantinya.

Bangunan ini di dominasi dengan warna biru, seakan ingin menyatu dengan birunya pantai Sawarna dan langit. Tapi kontras. Tidak mungkin bisa, pantai Sawarna dan langit indah, tapi tidak dengan bangunan ini, bangunan yang jauh dari kata indah. Memprihatinkan.

SMP Satu Atap 8 Bayah namanya, hanya terdiri dari tiga ruangan, dua ruangan di gunakan untuk proses produksi generasi negeri ini, dan sisanya digunakan sebagai ruang guru. Di sebelah kanan ada tiga ruangan yang sepertinya akan digunakan sebagai kamar kecil, tapi terbengkalai. Pembangunan tidak dilanjutkan. Entahlah. Sarana olahraga hanya ada lapangan volly. Memang, sepertinya siswa tidak perlu rajin-rajin berolahraga, toh jalanan ke sekolah yang naik turun dan sedikit jauh dari perkampungan sudah cukup membuat mereka sedikit menggerakkan semua otot-otot tubuh setiap hari.

Di bagian belakang SMP ini ada kebun-kebun yang terbengkalai. Mungkin ada seribu bibit cabe yang sudah siap di tanam, juga terbengkalai. Kasihan. Masih berada di pot-pot kecil dari daun aren, unik.

Kualitas? Ah jangan tanyakan itu, pasti masih sangat jauh dari kata baik. Memang, semua guru sudah atau sedang menempuh jenjang kuliah, tapi hanya kuliah di universitas terbuka, yang kita sendiri tau bagaimana kualitasnya.

yang penting dapat ijasah sarjana bang” kata seorang guru suatu ketika.

Gurunya hanya ada tiga belas orang, itu juga jarang hadir. Apalagi jika hujan, jalanan yang memprihatinkan akan membuat guru-guru berpikir berkali-kali untuk datang ke sekolah.

Awalnya ada 52 generasi yang dididik di sini, 52 calon pemimpin bangsa. Tapi kini hanya tinggal 42 orang. Sepuluh lainnya sudah berguguran. Dua puluh orang di kelas satu, dua belas orang kelas dua, dan sepuluh orang kelas tiga. Sepuluh orang yang gugur itu pergi tanpa pesan, menghilang begitu saja.

Walau keberadaannya mungkin tidak diperdulikan oleh penguasa-penguasa yang sibuk memperebutkan kekuasaan di atas sana, SMP Satu Atap 8 Bayah kampung Tambleg tetaplah sebuah pabrik pembentuk generasi negeri ini yang harus diperhatikan. Jangankan pembaca sekalian, warga Bayah, Lebak, atau Banten sendiri mungkin tidak tau bahwa ada Tambleg yang merupakan bagian dari mereka.

Selasa 27 Desember 2011

09.30 WIB