Perhatikan deh orang tua sekarang, sebagian besar dari mereka kalau diberi alat elektronik seperti hape, laptop, tablet dan sebagainya, bisa dipastikan hanya akan bengong. Bingung gak tau mau diapain. Jangankan orang tua, yang masih muda juga kalau gaptek akan melongo doang. Gak ngerti mau diapain tuh barang. Nah sayangnya, masyarakat kita sebagian besar adalah masyarakat yang lebih suka membeli gengsi daripada kebutuhan. Beli hape berjuta-juta tapi cuma dipakai untuk sms dan telpon, beli laptop puluhan juta, eh ternyata hanya dipakai untuk ngetik dan dengerin musik doang. Lebih pintar alatnya dari pada pemakainya. Kasihan. Golongan ini adalah golongan Imigran, imigran teknologi.

Tapi bandingkan dengan anak-anak cerdas, pemuda yang melek teknologi. Semua yang ada di genggamannya akan jadi powerfull, tidak sia-sia. Mereka sadar kebutuhan dan membeli hanya sesuai yang mereka butuhkan. Bukan menuruti keinginan belaka. Saya membeli ini karena saya butuh! Itu mungkin slogan mereka. Inilah golongan Native, native teknologi.

Analogi di atas akan saya paksakan ke permasalahan pendidikan negeri ini, sumber daya guru yang kurang memadai. Kita semua tahu bahwa unsur pendidikan di negeri ini minimal ada empat yaitu guru, siswa, sumber belajar, dan kurikulum. Dan dari keempat unsur itu, saya masih percaya bahwa kuncinya adalah guru, sedangkan tiga yang lain bisa diatasi jika kondusi kurang memadai.

Guru adalah sosok pendidik di mata siswa. (harusnya) Menjadi panutan dan teladan. Tapi untuk saat ini, coba sebutkan guru mana yang seperti itu? ada sih, tapi mungkin hanya sedikit. Sangat sedikit. Yang ada justru kebanyakan guru sekarang sebagian besar hanya mengajar seadanya tanpa RPP, tanpa perencanaan, guru ceramah panjang lebar dan anak-anak tidur, merangkai mimpi-mimpi mereka. Malah terkadang guru hanya setor wajah kemudian meninggalkan buku untuk didiktekan kemudian ia pergi entah kemana.

Ada juga guru penjual. Datang ke sekolah tergopoh-gopoh dengan membawa tas yang penuh sesak berisi barang dagangan. Ada tupper ware, baju batik, kaos, buku-buku pelajaran dan LKS, jual pulsa elektrik, dan masih banyak dagangan lainnya. Honor yang sangat minim membuat mereka kreatif mencari sumber pendapatan lain dengan berjualan, walau akhirnya mengorbankan kewajiban hakiki mereka.

Yang paling parah emang guru gak nyadar. Gak nyadar kalau Ia adalah seorang guru. Datang ke sekolah hanya menggugurkan kewajiban. Mengajar tanpa memperdulikan siswanya mengerti atau tidak mengerti. Isi absen, masuk kelas, mengajar, dan pulang. Selesai. Dan masih banyak lagi jenis-jenis guru Imigran lainnya. Mereka tidak megikuti perkembangan jaman. Siswanya sudah paham banyak hal dari dunia maya, ia malah gak tau apa-apa. Guru imigran sebagian besar adalah guru-guru senior yang masih kekeuh dengan gaya mengajarnya tanpa mau memperbaiki mengikuti tuntutan jaman.

Yang kita butuhkan adalah guru native, guru yang sadar bahwa Ia adalah seorang guru. Cetakan bagi murid-muridnya, sebuah masterpiece yang akan ditiru oleh banyak generasi. Guru yang kreatif, memanfaatkan sumber daya seadanya untuk pengajaran luar biasa. Guru inovatif, tidak hanya terpenjara dalam ruangan kelas yang sempit. Guru-guru yang berkata sesuai dengan apa yang dilakukannya. “anak-anak kita tidak boleh merokok ya, tidak baik untuk kesehatan”, dan Ia pun memang tidak merokok. Inilah guru-guru yang akan memberikan semuanya. Sadar akan kewajiban dan kebutuhan murid-muridnya. Mengikuti perkembangan jaman sehingga bisa lebih dekat dengan murid.

Pembaca sekalian, pendidikan memang bukan hanya di sekolah, ada pendidikan keluarga dan lingkungan. Ketiganya harus sejalan. Sekarang tugas kita sebagai guru adalah sekuat tenaga melakukan perbaikan yang terus menerus, perbaikan kompetensi dan karakter sepanjang hayat. Sedangkan tugas kita sebagai orang tua adalah memilihkan sekolah yang baik dan bermutu, bukan yang asal-asalan. Siapkah?? Harus!!