Jadilah guru yang baik atau tidak sama sekali, karena di tangan gurulah generasi ini dibentuk, merekalah orang tua kedua, orang tua di sekolah. Maka jika tidak bisa menjadi guru yang baik, segeralah bertobat dan berhenti jadi guru. Jangan hanya demi rupiah, mempertahankan profesi itu tapi tindakanmu tidak mampu memberikan tauladan yang baik bagi anak-anakmu di sekolah, kau hanya akan menghancurkan negeri ini di masa depan. Sebuah dosa besar yang mungkin tak terampuni.

Lalu bagaimana menjadi guru yang baik? Yuk kita diskusi, bukan menghakimi. Paling tidak guru yang baik harus memiliki dua hal, kompetensi dan karakter yang mencerminkan dialah seorang guru.

Kompetensi guru terdiri dari tiga hal, profesionalitas, kepribadian, dan sosial. Guru yang baik dituntut harus profesional, mampu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Profesional dalam mengajar dan memberikan penilaian. Jika mengajar maka ia akan total, fisik dan jasadnya penuh ada di depan kelas mengajarkan ilmu kepada anak didiknya. Guru yang profesional akan mampu mendelivery materi pelajaran dengan baik. Penguasaan materi yang diajarkan juga termasuk di sini.

Kompetensi kepribadian berhubungan dangan pribadi sang guru. Ia harus mampu bersikap santun dan sopan, murah senyum, setiap perkataannya penuh hikmah dan bijak, dan yang paling penting adalah guru harus bisa menjadi teladan, ia harus terus belajar untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Kompetensi sosial berhubungan dengan kemampuannya berinteraksi dengan teman sejawat, dengan murid-muridnya, dan dengan stakeholder lain yang ada di sekolah. Alangkah lebih baik jika jam istirahat, guru lebih meluangkan waktu untuk berbaur dengan muridnya, sehingga jarak hati ia dan muridnya akan sangat dekat. Seperti kata Ari Lasso, “sentuhlah ia tepat di hatinya, diakan jadi milikmu selamanya”. Murid kita juga begitu, jika kita berhasil menyentuh hatinya maka bersiaplah untuk menjadi idolanya dan bersiaplah untuk dirinduinya. Ah bahagia sekali jika murid kita seperti itu, merindui kita.

Itulah kompetensi guru yang harus dijaga dan terus ditingkatkan. Sedangkan yang paling penting adalah karakter guru. Karakter adalah pondasi sedangkan kompetensi adalah bangunan yang ada di atasnya. Sebagus apapun bangunan itu, jika pondasinya tidak kuat maka tinggal menunggu waktu saja untuk roboh.

Karakter minimal yang harus ada diantaranya adalah disiplin, amanah, empati, adaptif, komunikatif, dan mampu bekerja sebagai individu dan tim. Inilah karakter yang sedang dibentuk di program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI), Dompet Dhuafa. Karakter menjadi sangat penting karena negeri ini kian hari semakin bobrok saja, menunggu kehancuran, akibat dipimpin oleh orang-orang pandir tak berkarakter.

Jika guru-guru indonesia mampu memiliki itu semua, memiliki kompetensi dan karakter yang baik, maka hasil didikannya juga minimal akan mengikutinya. Menjadi pemimpin negeri yang pintar dan berkarakter. Pemimpin yang tidak sembarangan menjual aset negeri ini hanya demi recehan rupiah, pemimpin yang tidak hanya rapat dan tidur di gedung istimewa, pemimpin yang mampu merasakan penderitaan rakyatnya, pemimpin yang tidak hanya mengatakan cintailah produk dalam negeri tapi malah tidak mendukung anak-anak bangsa, tidak mengapresiasi karya anak-anak bangsa. Munafik.

Pembaca sekalian, teman-teman guru yang budiman, mari terus tingkatkan kualitas kompetensi dan karakter kita menjadi lebih baik lagi. Tak ada gading yang tak retak, semua memiliki kekurangan dan kelebihan. Kita semua pernah melakukan kesalahan, tapi masih ada masa depan untuk berkarya lebih baik lagi. Ingatlah bahwa nasib negeri ini ada di anak-anak yang sedang kita didik, akan kita jadikan apa mereka?? Kitalah yang membentuknya. Dan kita semua, tanpa terkecuali pasti menginginkan indonesia yang lebih baik. Benarkan??