Hari pertama KKN di kampung Tambleg, benar-benar menjadi hari yang berat buatku. Program KKN yang masih belum matang dan kondisi kampung yang basah serta naik turun, membuatku bersusah payah berjalan, harus sangat hati-hati. Lengah sedikit, aku bisa terpeleset. Jatuh. Tumbuh menjadi pemuda dengan kaki kanan yang cacat, folio, memang menjadikanku tak bebas bergerak, di saat teman-teman lain berjalan kaki menuju Tambleg, aku justru naik mobil truk. Bagi sebagian orang mungkin akan berkata “enak dong, ga capek jalan”, tidak bagiku. Tidak bisa bersama teman-teman, aku sedih. Tapi, inilah aku, dengan segala keterbatasan, aku tetap akan selalu bersyukur.

Seperti juga hari itu, aku malu saat akan melakukan aktivitas, harus menaiki tanjakan yang lumayan terjal dan licin. Aku sengaja berangkat saat sebagian besar warga sudah berangkat ke sawah, aku malu jika ada yang melihat aku kesusahan menaiki tanjakan. Aku malu jika ada yang memandangku dengan sorotan mata kasihan, aku malu.

Hari itu, kegiatan tim ekonomi adalah mematangkan kembali program, melatih warga Tambleg membuat tempe, makanan asli Indonesia yang memiliki nilai protein tinggi. Sasaran program ini adalah ibu-ibu dan remaja putri yang tidak pergi ke sawah dan memiliki waktu luang. Harapan jangka panjang dari program ini adalah terbentuk UKMT (Usaha Kreatif Mandiri Tambleg) dan peningkatan taraf pendidikan anak-anak Tambleg. Jika program ini berjalan ideal, ke depan diharapkan sekian persen keuntungan harus diberikan ke sekolah untuk pengadaan beasiswa bagi anak-anak Tambleg berprestasi. Pemberian beasiswa harus dengan perjanjian ketika sudah berhasil nanti harus bersedia kembali ke Tambleg untuk memajukan kampung ini. Sebuah mimpi yang mulia dan jelas tidak akan bisa terwujud dalam waktu tiga minggu. Memang mustahil, namun toh tidak ada salahnya jika kami, walau bukan warga kampung Tambleg, memimpikan Tambleg yang lebih baik.

Rapat dibuka oleh neng Dhiya selaku ketua tim ekonomi pertanian, di awal rapat kami share pengalaman malam pertama tidur di rumah keluarga baru kami. Kami tertawa, banyak cerita menarik. Beberapa diantaranya adalah cerita neng Dhiya dan Rini, kedua wanita jilbaber ini merasa cobaan terberatnya adalah mendapat rumah tanpa kamar mandi, sehingga mereka selalu akan berpikir mencari kamar mandi yang tertutup untuk mandi nanti. Ada juga cerita Syamsul dengan cerita ‘brengsek’nya, keluarga barunya mengartikan kata ‘brengsek’ adalah ‘jelek’. Sehingga ketika pertama kali disambut, sang ayah barunya mengatakan “maaf ya mas, rumahnya brengsek”, dan ketika makan malam, “maaf mas, makanannya hanya ini, nasinya juga brengsek”, ada-ada saja. Berbeda dengan Jamil, yang mendapatkan keluarga dengan ukuran rumah yang sangat kecil, tidak ada kamar mandi dan MCK, Jamil harus kesana kemari untuk mandi dan buang air. Dan masih banyak lagi cerita menarik dari teman-teman.

Rapat pagi itu menghasilkan kesepakatan untuk melakukan trial pembuatan tempe pada Rabu 14 Desember 2011 dan bersilaturahim ke tokoh masyarakat untuk meminta saran dan masukan.

Masih dua puluh hari lagi aku di sini, di Tambleg. Masih dua puluh hari pula aku berjuang dan bersusah payah naik turun tanjakan. Rumah keluargaku di bawah, sedangkan perpustakaan yang sering dijadikan markas berada di atas, paling tidak ada empat tanjakan yang harus aku lewati untuk ke sana. Perjuangan ini harus aku jalani, semoga menjadi amal kebaikan nanti. Keterbatasan ini bukanlah sebuah hambatan untuk berbagi. Abdullah bin Umi Maktum, sahabat rasululloh yang buta sekalipun tidak ada keringanan untuk berjamaah di masjid, begitu juga dengan Abdullah bin Mas’ud dengan perawakannya yang cebol dan kaki yang kecil, tidak menjadikannya kecil di hadapan sahabat yang lain. Dan kini, diriku yang cacat kaki kanan karena folio, semoga juga bukan penghalang untuk melakukan sesuatu yang berarti buat sesama.

Semoga para pembaca sekalian juga demikian, menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi sesama. Banyak orang di luar sana yang membutuhkan bantuan kita. Sedikit uluran tangan kita akan sangat luar biasa berarti buat mereka. Sedikit jerih payah kita akan mengembangkan senyum mereka. Jika aku yang cacat saja bisa (walau hanya seadanya) apalagi pembaca sekalian yang fisicly normal. Pasti akan jauh powerfull bantuan yang diberikan.

Rabu 14 Desember 2011

06.25 WIB