“Kalangan ahli psikologi menyarankan agar orangtua dan guru

membiasakan mendongeng untuk mengurangi

pengaruh buruk alat permainan modern”

Anonim

Luas dan memiliki kekayaan alam melimpah, tapi miskin? Indonesia. Demokrasi yang katanya berhasil, tapi korupsi menjadi-jadi? Indonesia. Pemeluk Islam terbanyak di dunia, tapi free sex, judi, dan minuman keras mudah sekali didapat? Indonesia. Penyandang gelar haji terbanyak, tapi banyak yang kelaparan? Indonesia. Penegak hukum (polisi, hakim, dsb) yang menjual hukum seenaknya? Indonesia. Dan masih banyak lagi kebobrokan di negeri tercinta ini. Mengapa semua ini bisa terjadi? Siapa yang salah?

Tentu banyak hal yang menjadikan negeri ini menjadi seperti sekarang, tak terhitung. Namun di tulisan ini mari kita bahas satu saja, pendidikan dari orang tua, guru pertama kehidupan.

Menikah memang hukumnya mubah atau boleh. Menurut Romli S.Ag, dosen pendidikan agama Islam dan pengasuh pesantren mahasiswa Al Inayah, “mubah adalah hukum yang fleksibel, hukum ini bisa menjadi wajib, sunah, makruh, bahkan haram tergantung kondisinya. Namun sebagian orang hanya mengartikan mubah dengan makna yang sempit, hanya boleh”. Menikah memiliki hukum yang sama dengan makan. Anjurannya adalah makanlah ketika lapar, sederhananya maka menikahlah ketika siap. Jangan terburu-buru juga jangan ditunda-tunda. Karena ketika sudah memutuskan menikah, maka juga harus siap menjadi orang tua, menciptakan generasi yang luar biasa, bukan generasi asal-asalan.

Menciptakan generasi hebat adalah tugas awal orang tua, ingatlah pepatah arab yang mengatakan bahwa ibu (keluarga) adalah sekolah! Saya masih percaya bahwa bobroknya negeri ini salah satunya adalah karena gagalnya pendidikan di rumah, tidak ada teladan yang baik dari orang tuanya, dan hilangnya kebiasaan mendongeng atau berkisah, tergantikan dengan televisi yang kian menjadi-jadi.

Mendongeng adalah bercerita tentang suatu kisah, baik itu khayalan maupun nyata. Mendongeng memiliki manfaat yang sangat bagus untuk perkembangan psikologi anak. Lihatlah kepala sekolah di sekolah SD Muhammadiyah dalam film laskar pelangi yang selalu berkisah ketika melakukan pembelajaran di kelas, suatu ketika Ia berkisah tentang nabi Nuh yang membuat kapal besar untuk menyelamatkan diri dari air bah, di lain waktu Ia bercerita tentang perang Badar. Semua anak terkesima mendengarkan. Dan kepala sekolah itu selalu menyisipkan nilai moral di akhir ceritanya. Hasilnya, Arai bisa mendapat beasiswa ke Shorborn.

Di zaman yang serba canggih seperti sekarang mendongeng mungkin sudah dilindas habis oleh televisi. Sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, mereka dihadapkan pada televisi yang menyajikan beragam acara, mulai dari kartun, kuis, hingga sinetron yang acapkali bukan tontonan yang pas untuk anak. Kalaupun mereka bosan dengan acara yang disajikan, mereka dapat pindah pada permainan lain seperti video game. Orang tua yang tidak mengerti dan tak peduli semakin memperparah keadaan ini.

Walau demikian, kegiatan mendongeng sebenarnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi. Beberapa ahli menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.

Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.

Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena ketika mendongeng, orang tua tidak bersikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.

Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan, anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

Namun, di samping setumpuk teori manfaat tentang mendongeng di atas, kita sebagai orang tua dan pendidik tetap harus berhati-hati dalam memilih dongeng yang akan dibawakan, karena tidak sedikit dongeng yang justru memiliki kandungan nilai yang negatif dan destruktif bagi perkembangan psikologi anak. Salah satunya adalah Sangkuriang, yang secara eksplisit mengisahkan bahwa ibu kandung Sangkuriang gara-gara bersumpah akan menjadi istri pihak yang mengambil peralatan tenun yang jatuh terpaksa menikah dengan seekor anjing.

Tak hanya sampai disitu, kondisi kemudian diperparah oleh kisah bahwa setelah membunuh sang anjing yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri Sangkuriang sempat jatuh cinta kepada Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri. Belum lagi tentang  kelicikan Dayang Sumbi membangunkan ayam jago agar berkokok sebelum saat fajar benar-benar tiba, demi mengecoh Sangkuriang agar menduga dirinya gagal memenuhi permintaan Dayang Sumbi yakni merampungkan pembuatan perahu dalam satu malam saja.

Muatan-muatan cerita dongeng harus dipertimbangkan dengan kondisi psikologi anak, jangan sampai terjadi kesalahan pemahaman dari dongeng yang dimaksudkan positif justru menjadi negatif.

Para pembaca sekalian, mari hidupkan lagi kegiatan mendongeng. Bercerita tentang heroisme dan optimisme perjuangan para nabi dan para pahlawan mungkin menjadi pilihan terbaik sebelum tidur atau di saat sedang bersama anak.