Rumah panggung ini mungkin hanya berukuran 5×10 meter. Sangat sederhana. Dindingnya hanya terbuat dari papan, langit-langitnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah pasutri yang sedang berbahagia menanti kelahiran anak pertamanya. Teteh Ratika dan kang Sunandi, induk semang Rini, mahasiswa SGEI asal Lampung. Di kampung ini memang sebagian besar rumah penduduknya adalah rumah panggung.

“kenapa teh, kok rumah di sini masih banyak yang rumah panggung?” tanya Siska, mahasiswa SGEI asal Jogja, kepada induk semangnya.

“yah kemampuan uangnya cuma segini neng” jawab bi Misnah, induk semang Siska.

Perekonomian di kampung Tambleg memang masih sangat rendah. Sebagian besar warganya adalah petani tradisional, petani sawah.

“di sini mah, kalau makan ga susah mas saepul. Apa aja kalau ditanam bisa tumbuh. Singkong, pisang, nangka, apa aja deh. Kalau cari uang baru susah” ujar Mad Hatta, induk semangku.

Tingkat pendidikan warga yang masih sangat rendah menjadikan mereka tidak berani bermimpi lebih tinggi, tidak berani melakukan sesuatu yang kreatif untuk memajukan perekonomian mereka. Mereka cukup puas dengan keadaan ini, cukup makan. Walau keadaan ekonomi masih kurang. Padahal, banyak hal yang bisa dijual di sini, terutama manggis.

Buahnya bulat dan berwarna merah kecoklatan, manggis!! manis rasanya. Sayang, belum dipasarkan keluar kampung. Baru menjadi sajian bagi tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Seperti hari ini, di rumah Rini, teh Ratika menyuguhiku buah yang dulu tidak kulirik sama sekali. Namun, aku menjadi sangat suka sekarang. Segar dan nikmat.

“dicicipi bang, ini manggis organik lo” teh Ratika menawarkan.

Tujuh buah mangggis dengan ukuran yang tidak seragam dalam mangkuk plastik berwarna putih berada di hadapanku. Menggoda. Aku mencicipinya. Habis satu buah, aku melanjutkan mengambil buah yang kedua. Di tengah terik siang ini memang buah manggis seakan menjadi embun di tengah kegersangan. Kalau di Bogor, mungkin sudah belasan ribu habis untuk menikmati manggis ini, tapi di sini, gratis.

Ah kalau tidak karena malu, mungkin sudah kuhabiskan ketujuh manggis ini” gumamku dalam hati.

Selasa 27 Desember 2011

14.40 WIB