Tadi malam, di masjid Jami’ Al qodar kampung Tambleg, diadakan lomba cerdas cermat tingkat remaja sekampung Tambleg dalam rangka MTQ dadakan. Terdiri dari tujuh kelompok, A-G. Miandi tergabung di dalam kelompok C bersama Jumsiah dan Ida. Lomba cerdas cermat dihadiri juga oleh warga, para orang tua peserta yang ingin menyaksikan kemampuan anak mereka, termasuk ada ibu dan bapakku. Semua penonton terlihat antusias.

Pertanyaan dalam lomba cerdas cermat terdiri dari pertanyaan wajib dan rebutan. Pertanyaan wajib adalah pertanyaan masing-masing kelompok yang harus dijawab hanya oleh juru bicara. Jika kelompok tidak bisa menjawab maka pertanyaan tersebut akan dilempar ke kelompok sebelahnya. Jika salah tidak ada pengurangan nilai. Sedangkan pertanyaan rebutan, semua anggota kelompok boleh menjawab dan ada pengurangan nilai jika jawaban salah. Pertanyaan wajib berada di dalam amplop yang diambil oleh masing-masing juru bicara kelompoknya.

Sesi pertanyaan wajib hampir semua bisa menjawab, termasuk kelompok C, kelompoknya Miandi. Enam pertanyaan wajib, terjawab semua. Skor 600 untuk kelompok C. Hanya kelompok F yang tidak berhasil menjawab semua pertanyaan wajib, skor 300 untuk kelompok F, dari enam pertanyaan, hanya tiga yang terjawab benar.

Memasuki babak rebutan, suasana menjadi semakin seru. Sarana yang seadanya membuat panitia memutar otak untuk menentukan mekanisme rebutan. Akhirnya rebutan dilakukan dengan angkat tangan dan menyebutkan kode masing-masing kelompok. Secara berurutan, kode kelompok dari A-G adalah NU-JU-TAM-BLEG-PRO-DUK-TIF, nuju tambleg produktif. Sebuah slogan yang kami bawa dari bogor, Menuju Tambleg Produktif!! Bersama, Belajar, Berkarya!

Soal rebutan terdiri dari 15 pertanyaan. Satu persatu pertanyaan berhasil dijawab oleh kelompok yang duluan mengangkat tangan, walau kadang panitia kebingungan untuk menentukan kelompok mana yang duluan mengangkat tangan. Terkadang ada juga kelompok yang mendapat pengurangan nilai karena salah menjawab. Dari awal babak rebutan aku memperhatikan kelompok C, kelompoknya Miandi, mengharapkan mendapatkan kesempatan untuk menjawab. Namun hingga babak rebutan usai, kelompok Miandi tidak menjawab satupun pertanyaan di babak rebutan, skor 600 tidak berubah. Secara berurutan kelompok A-G mendapatkan skor 700, 1000, 600, 900, 600, 400, dan 900. Dengan hasil ini maka kelompok yang maju ke babak final adalah kelompok A, B, E, dan G. Babak final akan dilakukan malam berikutnya.

Miandi pulang dengan keadaan kecewa. Keadaan ini semakin diperparah dengan ucapan bapak yang mengatakan bahwa Miandi adalah anak bodoh. Aku tahu bahwa itu adalah ungkapan sayang dari seorang bapak kepada anaknya. Bapak hanya ingin Miandi lebih rajin belajar, menjadi anak yang bisa membanggakan bagi orang tuanya. Tapi, semua ungkapan itu salah diartikan oleh Miandi, semakin membuat Miandi kecewa.

Aku selalu yakin bahwa setiap anak adalah cerdas, tidak ada yang bodoh. Termasuk Miandi. Mungkin kecerdasannya belum terasah dengan baik, atau mungkin kecerdasannya ada di bidang lain. Itulah sebabnya kemudian aku menyemangatinya, bahwa kalah dan menang adalah hal yang wajar dalam sebuah pertandingan, tidak mungkin menang semua dan tidak mungkin kalah semua. Teruslah belajar dan berusaha Miandi, jalan ini masih panjang.

Rabu 29 Desember 2011

06.11 WIB