Aku tidak pernah menyangka akan ke daerah yang benar-benar terpencil, kampung Tambleg. Kampung yang merupakan bagian dari desa Cidikit, kecamatan Bayah, kabupaten Lebak, Banten. Semua terjadi ketika aku dan mahasiswa SGEI lainnya harus menjalani program KKN, mengabdi ke masyarakat selama tiga minggu. Berbagi dengan masyarakat Tambleg. Tidak banyak sebenarnya yang kami bawa, hanya uang dua belas setengah juta dan hanya dalam waktu tiga minggu saja, jelas tidak akan banyak perubahan yang bisa diharapkan dari sumber daya yang ada. Namun, bagaimanapun juga kami akan melakukan semuanya secara maksimal, meningkatkan taraf pendidikan masyarakat Tambleg.

Kami masih percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk mengubah masa depan. Tapi bukan pendidikan yang asal-asalan. Semua harus berasal dari ahlinya, dari yang paling unggul. Seperti ungkapan yang pernah diucapkan oleh Francis Bacon, eipsa scientia potestas est, pengetahuan adalah kekuatan. Dahulu, di abad 17, masa Francis Bacon, karena mental zaman kegelapan masih kental, perbedaannya adalah siapa yang mempunyai (dan mengembangkan) ilmu pengetahuan dan siapa yang tidak mengembangkan ilmu pengetahuan. Dahulu siapa saja yang mengembangkan ilmu pengetahuan pasti akan kuat dan berkuasa. Sekarang hal itu terjadi di sini, Tambleg. Sebagian kecil masyarakat yang ditokohkan dan kaya raya di kampung ini adalah guru, orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih.

Eropa yang terlihat sangat hebat sekarang, dulu (bahkan hingga seribu tahun merupakan negara yang sangat miskin dan terbelakang), masa yang dikenal sebagai the dark ages. Seribu tahun! Lalu Jepang, negara yang kini dikenal sebagai economic superpower, negara yang ditakuti oleh eropa, dahulu juga merupakan negara miskin dan korup. Di sisi lain, kita lihat bangsa arab, bangsa yang sangat maju di abad 7 hingga abad 12, kini justru menjadi bangsa yang tertinggal dan terbelakang. Kenapa semua ini bisa terjadi? Bagaimana negara-negara ini bisa menjadi hebat?

Secara logis, jika kita bisa mempelajari semua prosesnya, maka kita akan mengetahui sebab negara menjadi kaya dan mengapa negara bisa jatuh. Ketika kita sudah mengetahui sebabnya, maka kita juga bisa menerapkan konsep itu ke semua daerah, menjadikan daerah tersebut maju dan kaya. Inilah yang kami usahakan, membentuk masyarakat baru yang superior, a new superior civilization.

Mari kita ke bangsa arab di abad 7 hingga 12. Pada masa ini umat islam sangat menjunjung tingga ungkapan, tuntutlah ilmu hingga ke negeri china. Umat muslim sangat terhipnotis dengan wahyu pertama yang turun, iqro’! bacalah! belajarlah! Sebuah perintah tegas untuk senantiasa mentadabburi alam, belajar dan belajar dari manapun. Dengan belajar kita menjadi tahu dan memiliki wawasan yang luas. Tuntunan itulah yang membuat orang-orang arab sangat bersemangat dalam mengambangkan ilmu pengetahuan, mereka menerjemahkan semua buku ke dalam bahasa mereka agar semua warga bisa mempelajarinya. Tidak seperti bangsa kita, buku-buku dibiarkan saja berbahasa inggris, sehingga tidak semua warga mengerti artinya. Ilmu pengetahuan tidak berkembang. Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat di arab membuat bangsa eropa kagum, sebagian orang belajar ke negeri arab. Mereka juga memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu, melahap habis semua buku. Rajin berkunjung ke perpustakaan. Di masa ini karena pengetahuan yang tinggi bangsa arab menjadi bangsa yang sangat kaya raya dan adidaya. Kemewahan tersaji menggiurkan.

Mungkin memang sudah watak manusia, akan mudah sekali mengikuti hawa nafsunya, terlena dengan kesenangan dan kemewahan. Di saat orang eropa sangat bersemangat menuntut ilmu, bangsa arab justru sibuk dengan kemewahan dan berfoya-foya. Di sinilah awal kehancuran bangsa arab, dan awal kebangkitan eropa, renaissans.

Kampung Tambleg saat ini, sedang dalam masa kegelapan, gelap karena memang listrik belum masuk, juga gelap karena tingkat pendidikan di sana sangat rendah. Kalaupun ada yang sarjana, mereka hanya berasal dari sarjana penyetaraan yang kualitasnya jauh di bawah. Selain itu, harapan sebagian besar masyarakat yang sebagian besar adalah petani tradisional, mungkin hanya akan menyekolahkan anaknya hingga SD atau SMP saja, tidak ada biaya kalau untuk melanjutkan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Kedatangan kami, selain menggugurkan kewajiban program dari Makmal pendidikan LPI dompet dhuafa, juga ingin meningkatkan harapan dan menyadarkan betapa pendidikan itu sangat penting dalam membangun kampung ini. Seperti sebuah kalimat yang indah dari Konfusius (551 SM-479 SM), “jika ingin kemakmuran 1 tahun, tumbuhkanlah benih. Jika ingin kemakmuran 10 tahun, tumbuhkanlah pohon. Jika ingin kemakmuran 100 tahun tumbuhkanlah (didiklah) manusia!”

Aku sadar, dalam waktu tiga minggu, semuanya bukan hal yang mudah. Bahkan terkesan mustahil. Namun tidak ada salahnya berharap. Semoga saja kedatangan kami ini merupakan awal dari sebuah kebangkitan Tambleg, Renaissans Tambleg.

Rabu 15 Desember 2011

07.22 WIB