Sudah enam hari aku tinggal di Tambleg, hujan juga sudah tiga hari tidak berhenti, intensitasnya memang tidak deras, tapi tetap saja mampu membuat kepalaku basah jika jalan ke perpustakaan di bagian atas Tambleg. Itulah yang menyebabkan aku sekarang pilek. Aku memang punya pantangan, dua hal. Tidak bisa kena debu dan air hujan. Jika itu terjadi maka bisa dipastikan malam harinya hidungku akan mampet dan meler terus. Tidak mengasikkan.

wah bang Syaiha bisa dijadikan indikator kebersihan nih” ujar Rini, peserta SGEI asal Lampung, suatu ketika.

Pilekku kali ini bukan karena debu, udara di Tambleg masih sangat segar dan bersih. Hampir dikatakan tidak ada debu sama sekali. Pilek ini disebabkan karena hujan kemarin, Kamis 15 Desember 2011. Begitu bersemangatnya aku mengumpulkan ibu-ibu Tambleg untuk sosialisasi program ekonomi pertanian sampai tidak memperdulikan hujan.

Kini sambil menunggu maghrib aku membaca buku, aku juga sibuk menarik-narik ingus yang naik turun. Menjijikkan.

“syaiful, makan sekarang atau nanti?” tanya bapak sepulang dari sawah. Makanan untuk santap malam memang sudah disiapkan di ruang makan, di lantai. Tidak ada meja mewah, hanya selembar tikar. Menu kali ini tidak seperti biasanya, agak istimewa, sarden. Aku membeli sekaleng sarden tadi sore. Bukan karena tidak selera dengan menu biasanya, aku hanya ingin memberikan sesuatu saja buat keluargaku. Selama ini, walau makan hanya selalu dengan ikan asin, garam, dan nasi, aku tetap saja lahap dan menikmatinya. Selalu nambah.

“saya ikut bapak saja, makan sekarang ayuk, habis maghrib juga tidak apa-apa” jawabku.

“ya udah nanti saja, sudah mau adzan” jawab bapak setelah melihat jam dinding, 17.55 WIB.

Aku bersiap ke masjid, masih dengan jaket idaman. Jaket ini setia menemaniku hari ini. Udara Tambleg memaksaku tidak melepaskan jaket seharian. Bahkan mandipun aku tidak berani, dingin. Di masjid sudah menunggu beberapa teman dan warga, alhamdulillah. Memang tidak banyak yang sholat berjamaah, bahkan bapakku juga jarang terlihat sholat. Semoga saja bapak dan ibu terketuk hatinya dan mau mengerjakan sholat lima waktu.

Selepas maghrib, aku langsung ke rumah. “bapak dan ibu pasti sudah lapar” pikirku dalam hati. Di rumah, bapak dan ibu sudah menunggu.

“bismillah..” kami memulai makan malam.

Aku mempersilahkan bapak untuk memulai duluan, mempersilahkannya mengambil nasi. Pilek ini membuat makanku sedikit terganggu. Tidak begitu nikmat. Aku mengambil nasi sedikit dan satu potong sarden. Setelah itu tiba-tiba saja ibu mengambil dua potong sarden dan meletakkannya di piring.

“habisin yang ini saja dulu, yang di mangkuk di simpan untuk besok” perintah ibu.

“tidak usah bu, nikmati saja yang ada, besok makan yang lain” aku menimpali.

“iya, makan aja. Besok makan yang lain. Kalau di simpan buat besok jadi tidak enak” kata bapak sambil mengambil sarden lagi dari mangkuk. Ibu terdiam.

Malam ini bapak makan dengan sangat lahap, sampai nambah tiga kali. Sarden yang semangkuk juga habis dimakan bapak.

alhamdulillah kalau bapak senang” gumamku dalam hati.

Sekaleng sarden, bagi kita mungkin bukan sesuatu yang istimewa, hanya hal yang biasa. Tapi bagi keluargaku, yang kesehariannya sebagai petani, sekaleng sarden adalah anugerah, makanan enak yang mungkin sangat jarang mereka nikmati. Selama ini mereka hanya makan dengan nasi, cabe, garam, dan ikan asin. Mungkin ikan asin menjadi lauk yang wajib, di rumahku selalu ada ikan asin setiap hari.

Inilah pelajaran hidup paling berharga, mensyukuri nikmat seberapapun besarnya. Sesuai dengan perintah Alloh, “bersyukurlah kamu maka akan aku tambahkan nikmat Ku padamu, namun jika kamu kufur (terhadap nikmatKu) maka ingatlah bahwa adzabKu sangat pedih”. insyaAlloh aku akan senantiasa bersyukur atas nikmat ini, nikmat mendapatkan keluarga baru yang baik sekali, dan nikmat hidup yang serba cukup. Alhamdulillah.

 

Sabtu 17 Desember 2011

06.01 WIB