Sebelum melanjutkan membaca mari kita batasi dulu permasalahannya. Pertama ikhwan dan akhwat dalam tulisan ini adalah lelaki atau perempuan yang memiliki pengetahuan Islam lebih, menjaga interaksi antara lawan jenis, dan selalu mengenakan pakaian rapi menutup aurat. Yah, kalau di kampus biasanya mereka adalah aktivis dakwah kampuslah. Setiap minggunya ikut kajian, biasanya disebut dengan liqo. Kedua, yang kita bahas adalah tentang cinta antara ikhwan dan akhwat, yang sama-sama liqo, ngaji setiap pekan.

Cinta antara ikhwan dan akhwat, salahkah? Menurutku tidak. Bukankah cinta itu anugerah dari yang maha kuasa? Normal-normal saja jika mereka saling jatuh cinta, tinggal bagaimana cara mereka mengekspresikannya. Menurutku yang tidak normal justru adalah ketika seorang ikhwan atau akhwat jatuh cinta pada orang yang urak-urakan dan jauh dari agama. Mungkin sebagian orang akan berdalih, “itukan potensi dakwah, siapa tau orang itu kemudian akan menjadi dekat ke agama dan menjadi lebih baik”. Ah, dia terlalu menggampangkan, padahal mendakwahi yang sudah dekat saja susah, walau memang hidayah sebenarnya adalah hak preogratif Alloh swt. Alih-alih membentuk generasi idaman, yang ada justru nanti malah tenaganya banyak terkuras untuk mendakwahi pasangannya. Kasihan dia.

“syaiful, aku kemarin dipanggil sama teman-teman ikhwan, kayak diadili, ditanya tentang hubunganku dengan bunga (nama samaran, hehe)” seorang sahabat pernah mengadu.

“terus kamu jawab apa?” aku penasaran.

“aku cuma jawab kami tidak ada hubungan apa-apa, aku tidak pernah bilang suka atau bilang tidak suka ke bunga, begitupun sebaliknya. Selama ini kami hanya sebatas teman akrab” jawabnya menjelaskan.

“ya sudah, lupakan saja. Anggap saja mereka peduli sama kamu, mereka tidak ingin kamu dijebak oleh syetan. Mereka cuma mengingatkan” aku mencoba bijak.

“iya, tetapi aku shock” masih dengan wajah agak kecewa.

Aku diam, sambil tetap tersenyum padanya.

Pembaca sekalian, menasihati orang itu ada caranya. Tidak semua orang suka dinasihati di depan orang banyak. Sebagian besar orang terutama yang memiliki ego tinggi, di nasihati di depan orang lain adalah sebuah bentuk penghinaan. Mereka lebih suka di nasihati secara personal. Dari hati ke hati.

Tentang cinta antara ikhwan dan akhwat. Aku selalu percaya, kalaupun antara ikhwan dan akhwat ada cinta, maka mereka akan mengekspresikan dengan cara-cara yang dibenarkan dalam agama, tidak melalui pacaran. Pikiran mereka akan jauh ke depan, ke pernikahan dan membina generasi idaman. Sayangnya, sebagian besar ikhwan dan akhwat menganggap bahwa interaksi ikhwan dan akhwat yang benar adalah melalui murobbinya, nggak boleh sendiri-sendiri.

Padahal dahulu, Salman Al Farisi pernah meminang seorang gadis. Di temani oleh Abu Darda Ia langsung ke rumah sang gadis, pujaan hati. Menyampaikan maksud kedatangannya, meminang, kepada kedua orang tua si gadis. Sayang sang gadis menolak dan justru memilih Abu Darda. Marahkah Salman Al Farisi? Tidak. Justru ikhlas membiarkan sang gadis bersama Abu Darda. Dari sini kita belajar, bahwa mengungkapkan perasaan langsung ke orang tua atau wali sang pujaan hati, dibolehkan.

Di lain waktu, pernah seorang gadis di depan umum mengatakan (saya lupa redaksinya) “ya Rasulullah, hari ini saya mengikhlaskan diri saya untuk engkau nikahi”. Rasululloh diam dan menunduk sejenak, meminta petunjuk dari Alloh, karena memang semua pernikahan Rasululloh atas perintah Alloh. Petunjuk untuk menikahi perempuan itu belum kunjung datang, hingga salah seorang sahabat berdiri dan berkata “wahai rasululloh, jika engkau tidak berkenan menikahinya, biarkan aku yang menikahinya”. Nah, dari sini kita belajar, bahwa mengungkapkan perasaan secara langsung juga diperkanankan. Asal tidak bertujuan untuk pacaran.

Bagaimana menurut kalian??