“ngerokok mas?” Unang menyodorkan rokok dji sam soe nya sambil menikmati film Ketika Cinta Bertasbih dari laptopku. Unang adalah tetanggaku, masih muda namun sudah duda, beranak satu. Anaknya tidak tinggal bersamanya, ikut mantan istrinya. Di kampung Tambleg, yang belum tersentuh listrik, menonton film adalah hal yang jarang sekali. Bahkan film sekelas Ketika Cinta Bertasbihpun unang dan keluargaku tidak mengenalnya. Dalam kegelapan, mereka terlihat begitu menikmati.

“tidak mas, tidak merokok. Dulu memang sempet ngerokok, tapi sudah berhenti” jawabku singkat.

“oh.. PKS ya?”

Deg. “kok tiba-tiba langsung nodong ke PKS?” pikirku dalam hati. Aku harus hati-hati menjawabnya. Diam sejenak, memikirkan kalimat yang netral. Aku tidak mendukung apapun.

“ah tidak mas. Memang di SGEI kami semua tidak boleh merokok. Kalau ketahuan merokok kami bisa kena sanksi, denda 25 juta” jawabku. Semoga jawaban ini membuat mereka puas dan tidak melanjutkan omongan politik. Aku sedang tidak ingin diskusi politik dengan warga Tambleg.

“oh.. kirain kader dari PKS” Unang menimpali, sambil pandangannya tetap mengarah ke laptop, menikmati film KCB yang sudah hampir selesai.

“emang kenapa mas kok langsung ke PKS kalau ada orang yang tidak merokok?” aku hanya ingin tahu.

“iya, kan dulu yang rame mengharamkan rokok PKS” jawab Unang singkat.

Aku diam, tidak melanjutkan percakapan. Mengalihkan pembicaraan ke film yang sedang ditonton. Sudah hampir selesai. Azzam sudah sampai di Indonesia, tinggal beberapa detik lagi selesai. Malam itu aku tidur dengan nyenyak, mungkin pengaruh obat yang aku minum, paracetamol.

Paginya, aku kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Berangkat jam tujuh pagi. Ke rumah teteh Ina, tetehnya Miandi, anak pertama pak Mad Hatta dan bu Neneng. Numpang buang hajat. Maklum, di kampung Tambleg, tidak semua rumah memiliki WC. Masih mengandalkan WC terpanjang di dunia, kali. Letaknya di jurang, terjal dan licin, aku tidak bisa.

Jam delapan kurang aku sudah ada di sekolah, sekedar melihat-lihat dan membaca buku di perpustakaan. Buku baruku, Imperium III belum selesai di baca. Buku ini mengasikkan, campuran antara buku motivasi dan sejarah dunia. Tentang bagaimana negara-negara unggul membentuk peradabannya. Ada baghdad, Inggris, Amerika, Jerman, Spanyol, dan masih banyak lagi. Inspiring.

Ketika sedang asyik membaca, pak Ma’i salah seorang guru senior SDN 3 Cidikit, menghampiriku. Sambil menghisap rokonya dalam-dalam, Ia menyapaku.

“mahasiswa yang KKN ini tidak ada yang merokok ya mas?” tanya pak Ma’i memulai percakapan denganku.

“tidak ada pak” jawabku singkat.

“kader PKS ya?” tanya pak Ma’i menyelidik.

Lagi-lagi pertanyaan yang sama dengan yang Unang sampaikan tadi malam terulang. Aku harus jeli menjawabnya. Karena maksud kedatangan kami adalah untuk sekedar berbagi, bukan untuk mengajak ke salah satu partai. Mungkin anggapan itu muncul karena kami adalah pemuda yang berbeda. Masih muda, energik, gaul, islami, dan berjiwa sosial tinggi, benar-benar seperti kader PKS memang, tapi aku bisa pastikan bahwa kami datang ke Tambleg murni untuk belajar.

“bukan pak. Di dompet dhuafa kami memang tidak boleh merokok, jika ketahuan merokok kami bisa didenda 25 juta. Kami kan sebenarnya dididik untuk menjadi guru model. Guru yang mengajarkan muridnya untuk tidak merokok, jadi kami tidak boleh merokok, apalagi jika di sekolah. Bagaimana mungkin kami melarang merokok ke siswa jika kami sebagai guru justru merokok di hadapan mereka” jawabku sekenanya.

Pak Ma’i mungkin tersindir. Sebab selesai aku menjelaskan, rokok yang sedang diapit di jari telunjuk dan jari tengah langsung di buangnya. Pak Ma’i diam. Aku juga diam. Hening.

Kampung Tambleg, desa Cidikit, Kec. Bayah, Kab. Lebak-Banten

Sabtu 17 Desember 2011

19.33 WIB