Masih seputar Tambleg, kampung terpencil di desa Cidikit, kecamatan Bayah, kabupaten Lebak, Banten. Sudah lima hari cuacanya begini. Matahari tak kelihatan, tertutup awan. Air hujan jatuh sedikit demi sedikit. Gerimis. Sudah satu minggu aku beraktivitas di kampung ini, tak ada libur. Melelahkan dan menyenangkan. Seperti hari ini, aku seharian di luar. Menunggu ibu-ibu menyerahkan tempe di perpustakaan sekolah, setelah sebelumnya kami mengajarkan ibu-ibu Tambleg cara membuat tempe. Hujan tetap turun sedikit demi sedikit di luar.

Hari ini setiap harus jalan ke rumah-rumah, tongkat kayuku selalu setia menemani. Hujan membuat tanah menjadi semakin licin. Beberapa kali aku tergelincir, belum sampai jatuh. Alhamdulillah. Siangnya, ba’da sholat dzuhur, tim ekonomi pertanian melakukan briefing untuk persiapan kegiatan di hari senin 19 Desember 2011, inisiasi pembentukan ekskul Kepal (kelompok pecinta alam dan lingkungan). Briefing selesai berbarengan dengan adzan ashar.

Alhamdulillah, saatnya membiarkan tubuh ini beristirahat” gumamku dalam hati.

Aku langsung meminta izin untuk pulang. Kembali tongkat kayuku menemani, hujan turun lagi. Kali ini lumayan deras, aku hanya memakai jaket untuk melindungi kepalaku dari air hujan. Jalanan yang menurun membuatku sangat hati-hati. Beberapa kali harus berhenti mengambil nafas dan berpikir, memilih jalan yang lumayan bagus.

Di depan ada kerumunan ibu-ibu, mungkin sedang ngerumpi. Menghabiskan waktu petang. Aku sengaja tidak memandangi mereka, karena aku tahu mungkin mata mereka sedang memandangiku kasihan. Aku tidak suka melihat tatapan mata kasihan ke arahku.

“mas pakai payung nih, hujan lo” ujar seorang ibu kepadaku.

“tidak usah bu, jaket ini juga sudah cukup” jawabku sambil menoleh ke arahnya sejenak dan kemudian menunduk lagi, menatap jalan yang semakin licin.

Tak ku sangka seorang pemuda, dengan membawa payung langsung mendekatiku. Berjalan memayungiku dan menggandeng tangan kananku.

“hati-hati mas” katanya.

“sudah mas, kalau begini saya jadi semakin susah. Saya tidak apa-apa kok” jawabku singkat.

Pemuda ini pasti disuruh ibu-ibu tadi, niat awalnya memang ingin membantuku, pasti kasihan melihatku jalan kesusahan di tengah hujan. Tapi, tindakannya justru bisa membahayakanku, aku bisa jatuh kalau begitu. Kaki kananku lumpuh karena folio, dan ketika berjalan, tangan kananku harus memegang kaki itu. Jadi tangan kanan ini tidak bisa digandeng saat aku sedang berjalan. Pemuda itu masih saja memegang tangan kananku.

Aku berhenti dan sedikit menghardiknya, “mas saya tidak apa-apa, kalau mas pegang tangan kanan ini, saya malah jadi susah berjalan. Biarkan saja saya sendiri”

Pemuda itu diam. Aku melanjutkan perjalanan, menuruni bebatuan yang basah dilumuri tanah kuning. Licin.

“terimakasih mas” teriakku kepada pemuda itu.

Pembaca sekalian, menolong orang adalah perbuatan mulia, sangat dianjurkan. Namun menolong orang juga ada aturannya. Jangan gunakan sudut pandang kita saja, tapi gunakan sudut pandang yang lain, terutama sudut pandang orang yang akan kita tolong. Seperti aku misalnya, sebagian besar orang mungkin beranggapan bahwa aku adalah orang yang perlu dikasihani, perlu ditolong. Namun sadarkah mereka bahwa pertolongan mereka terkadang membuatku semakin susah? Sadarkah mereka bahwa terkadang tatapan mata kasihan itu membuatku sakit? Mereka tidak sadar, karena di mata mereka aku adalah orang yang harus dikasihani dan ditolong. Tapi di mataku pribadi, aku tidak sedang membutuhkan pertolongan itu.

Minggu 18 Desember 2011

16.24 WIB