Ternyata berbuat baik itu tidak mudah. Ada-ada saja rintangannya, ketika ingin berbagi di kampung Tambleg, dengan barang bawaan yang hampir satu truk, ada berkarung-karung buku untuk perpustakaan, sekarung kedelai untuk membuat tempe, sekarung singkong untuk diolah menjadi makanan dan masih banyak lagi, aku dan teman-teman harus menenmpuh jalan yang sangat susah, terjal, batu-batu cadas, dan licin. Akibatnya perjalanan truk yang aku naiki harus tiga kali mengalami slip, tidak kuat maniki tanjakan yang sebenarnya tidak begitu tinggi. Truk berhenti di tengah-tengah tanjakan, membuatku deg-degan.

Kedua tanganku selalu berpegangan erat di ujung-ujung bak truk dan setiap kali ada lubang, tubuhku terpelanting kesana kemari, susah payah aku menjaga dua laptop yang ada dalam tasku, “lebih baik tubuhku saja yang memar-memar, daripada laptop ini yang rusak, bisa berantakan” gumamku dalam hati.

Setelah dua setengah jam perjalanan, akhirnya kampung Tambleg terlihat. Aku berhenti di depan sekolah, perpustakaan. Di sinilah semua barang diturunkan. Tambleg, sebuah pemukiman kecil di tengah-tengah hutan. Kondisi geofrafis yang berbukit-bukit menjadikan perumahan kampung ini terbagi-bagi, ada yang di atas dan bawah. Di perpustakaan, kami berkumpul melakukan briefing sejenak untuk menentukan tempat tinggal, setiap orang akan tinggal di satu rumah warga.

“no 16, Syaiful Hadi, akan tinggal dengan tokoh reformasi negara kita, bapak Mad Hatta” kata pemimpin rombongan kami, Tantan. Semua tertawa, lupa dengan segala kelelahan yang masih bersemayam.

“itu Moh Hatta mas, bukan Mad Hatta” celetuk salah seorang dari kami.

Setelah bertanya kesana kemari, aku kemudian diantarkan oleh seorang anak bernama Agus. Rumah keluarga baruku sederhana, sangat sedehana. Berada dua pintu dari masjid, alhamdulillah. Dindingnya retak-retak. Hanya lantai teras dan ruang tamu yang ada keramiknya. Kusen jendala dan pintu sudah hampir habis dimakan rayap, tinggal menunggu waktu untuk roboh. Tapi di balik itu semua, kulitku merasakan angin keramahan dan penuh cinta, hidungku mencium aroma kebahagiaan yang sangat menyengat dari dalam rumah ini.

Bismillah.. Assalamu’alaikum..” kuucapkan salam sambil mengetuk pintu rumahnya. Hening, sunyi tanpa suara.

“Assalamu’alaikum..” sekali lagi aku mengucapkan salam, masih sama, tak ada suara. Sunyi.

orangnya masih di kebun mas.. mampir saja dulu ke rumah pak RW” kata salah seorang warga menawarkan. Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa aku ingin menunggu di masjid saja, karena waktu ashar sudah hampir masuk.

Dalam sujudku sore itu, terlantun sebuah doa, semoga keluarga baruku mau menerimaku, membimbingku, mengajariku arti secuil kehidupan, dan arti kesyukuran dalam keterbatasan.

Selasa 13 Desember 2011

06.57 WIB