Ada tamu tak diundang yang tiba-tiba hadir meramaikan suasana hidup. Ia hadir menambah perbendaharaan rasa bagi jiwa muda kita. Kita tidak pernah tau sejak kapan warna merah jambu dinobatkan sebagai warna yang mewakili rasa ini, cinta. Padahal cinta itu berwarna-warni, ramai, dan tak terlukiskan. Kadang rasa ini berwarna hijau, sejuk dan asri sekali. Atau kadang menjadi merah, membara dan bergejolak. Tak jarang juga menjadi biru yang menentramkan. Cinta itu bukan hanya merah jambu.

Perasaan cinta dan sayang kepada lawan jenis adalah hal yang wajar dan lumrah. Cintalah yang membuat hidup ini dinamis, kadang jantung akan berdetak lebih cepat, salah tingkah, bersemu merah, malu-malu, curi-curi pandang, atau tersenyum ketika memandangnya. Cinta jualah yang membuat semua menjadi indah, wajah yang biasa saja akan terasa indah, bahkan suara yang cempreng sekalipun, kalau sudah cinta pasti jadi indah. Dahsyat. Ya, kekuatan cinta ini memang akan sangat luar biasa jika diletakkan pada tempat yang benar. Kita lihat bagaimana Rasululloh dan sahabat ketika berperang, mencari mati layaknya orang-orang kafir mencari hidup. Semua karena kecintaan yang maha dahsyat kepada Alloh. Ini adalah contoh cinta yang baik dan benar.

Kenyataannya di jaman ini, cinta sudah menjadi barang murahan. Hanya karena rupiah yang sedikit, cinta suci tergadaikan. Harga diri menguap. Hamil di luar nikah menjadi hal yang lumrah, aborsipun menjadi hal yang biasa. Menyedihkan. Cinta terekspresikan di jalan yang salah dan hina.

Jelas, sudah fitrah kita ingin mendapatkan cinta yang baik dan benar, bukan ekspresi-ekspresi cinta yang mengerikan dan menjerumuskan. Nah, yuk kita simak cara-caranya, hasil renungan penulis saat rasa cinta ini mulai muncul.  (1) pertanyakan sumber cintamu! Sepertinya kaidah Ibnul Qayyim Al Jauziyah layak menjadi renungan buat kita, begini katanya “Cinta akan lenyap dengan lenyapnya sebab”. Kaidah ini mengabarkan kepada kita semua bahwa sebab adalah nyawa dari cinta kita. Kita mencintai karena ada sebabnya. Mungkin karena cantik/ganteng, ramah, suaranya bagus, dll. Makanya ketika sebab cinta kita sembarangan, cinta yang tumbuh juga sembarangan. Bahkan mungkin maksiat. Jadi ketika kita menginginkan cinta yang abadi, sebab cinta kita juga harus abadi, Alloh swt. Adalah dusta jika kau berkata cintamu abadi padahal sebab cintamu hanya kecantikan fana, atau perangai sandiwara.

(2) pertanyakan manajemen cintamu! Berbicara tentang manajemen, saya akan menyinggung dua hal saja, SDM dan metode. Jika Manajemen cinta benar, maka akan sangat selektif memilih manusia yang akan direkrutnya menjadi partner hidup. Tidak boleh asal-asalan. Ketika menemukan orang yang benar, kemudian metode yang harus digunakan juga harus benar. Jangan seperti sebagian anak muda jaman sekarang, “aku lihat, aku pikat, aku sikat, aku minggat”, bangsat!

(3) pertanyakan output yang ingin dihasilkan dari cintamu! “Orang cerdas” suatu ketika sang nabi berkata “adalah orang yang selalu ingat mati” visioner, tujuannya jangka panjang. Begitupun dengan mencintai. Harus visioner, bukan hanya mementingkan tujuan jangka pendek saja. Mencintainya karena ingin menciptakan generasi hafizd quran, membangun generasi rabbani, kan luar biasa dahsyat.

Nah jika sudah menjawab ketiga hal di atas, sekarang jujurlah padaku, perasaan kalian (kepada lawan jenis) itu cinta atau (hanya) nafsu??

Dan kini, akupun sedang membangun cinta yang sehat. Menemukan sebab hanya karena Alloh, menemukan orang yang tepat dan mendekatinya dengan cara yang syar’i, semoga dengan cara itu akan tercipta produk berupa keluarga sakinah mawaddah warohmah. Semoga bermanfaat.

Salam dahsyat, Syaiha