Kiswanti, wanita yang hanya berijazah SD ini memiliki mimpi yang mulia. Mencerdaskan kehidupan bangsa dengan buku, hingga akhirnya mendirikan Warung Baca Lebak Wangi (Warabal), di Parung, Bogor. Keinginan kuatnya bersekolah ketika kecil menjadikan Kiswanti tumbuh menjadi wanita yang memiliki kepekaan yang tinggi terutama dalam bidang pendidikan.

“saya harus menunggu Bapak pergi narik becak dahulu, kemudian baru bisa ke sekolah untuk ngintip teman-teman belajar. Keadaan keluarga saya yang miskin membuat saya tidak bisa bersekolah dan hanya bisa mengintip teman-teman dari balik jendela. Namun lama-kelamaan saya ketahuan oleh guru dan diminta masuk ke kelas” ujar Kiswanti. Ayah Kiswanti hanya berprofesi sebagai penarik becak sedangkan ibunya hanya tukang jamu gendong keliling. Keinginan kuatnya bersekolah ketika itu didasari karena seringnya Kiswanti kecil menonton acara kuis di TVRI dan bisa menjawab sebagian besar kuis tersebut.

Kiswanti kecil benar-benar berjuang dalam memperjuangkan pendidikan SDnya, tidak semua guru menerima Kiswanti dengan baik. Bahkan ada salah seorang guru yang sampai mengatakan

“kamu miskin ya miskin saja, tidak usah sekolah” ujarnya, tak percaya ada seorang guru yang tega mengatakan kalimat seperti itu kepada siswanya. Namun, beruntung masih ada guru yang mengizinkannya untuk sekolah hingga menamatkan pendidikan SDnya. Kiswanti anak yang cerdas, ia berhasil lulus SD dengan nilai rata-rata 90. Ia hanya kurang beruntung sehingga tidak bisa melanjutkan sekolahnya.

“hanya pelajaran kesenian yang mendapatkan nilai 60 karena saat diminta menggambar pemandangan, saya menggambar pohon kelapa, pohon pisang atau bambu. Sedangkan guru saya ketika itu, menggambar pemandangan ya harus ada gunungnya dua, ada sawah, dan jalan” ujarnya mengenang masa kecilnya.

“saya menggambar pohon kelapa karena pohon kelapa itu bermanfaat semuanya, mulai dari lidi hingga akar bisa dimanfaatkan oleh manusia. Pohon pisang mengajari saya untuk tidak berputus asa, seperti pohon pisang yang tidak akan mati ditebang jika belum berbuah. Saya tidak ingin mati sebelum menghasilkan karya yang bermanfaat buat sesama. Sedangkan bambu mengajari saya untuk hidup dengan sosial yang baik” ujar wanita yang biasa di panggil Bude ini.

Keadaan ekonomi membuatnya tidak memungkinkan melanjutkan sekolah. Namun Kiswanti tidak putus asa, Ia menggila dengan membaca, membaca dijadikan aktivitas pengganti sekolah. Melahap semua buku-buku pelajaran SMP dan SMA secara mandiri. Bahkan Kiswanti sering menjadi tentor sebaya bagi teman-temannya yang sekolah SMP atau SMA.

Kegilaannya terhadap buku membuatnya nekat pergi ke Jakarta, untuk memperbanyak koleksi bukunya. Bermodalkan sekarung gabah hasil ‘mencuri’ milik ayahnya Kiswanti pergi ke Jakarta. Sampai di Jakarta ia bekerja sebagai pembantu di keluarga Filipina, mendapatkan gaji 40rb sebulan, dan gaji pertama langsung dibelikannya buku di toko buku Kwitang, toko buku pertama yang ia kenal.

Titik balik Kiswanti terjadi di tahun 1994, ketika Kiswanti memutuskan hijrah ke Parung. Berawal dari keprihatinan terhadap anak-anak yang gampang sekali mengucapkan kata-kata kotor ketika terjadi perselisihan, Kiswanti menginisiasi warung bacanya. Ingin mengubah kebiasaan buruk anak-anak menjadi kebiasaan baik, membaca.

Warung bacanya mendapat sambutan baik dari warga sekitar sehingga koleksi buku Kiswanti harus ditambah. Ia bingung. Tidak ada uang untuk membeli buku. Ide kreatifnya muncul. Keahlian membuat jamu dari sang ibu ia terapkan. Membuat jamu dan menjualnya dengan sepeda onthel sambil membawa koleksi bukunya.

“jamu sehat, mau sehat? ayo minum jamu!! mau pintar? silahkan membaca buku. Hasil penjualan jamu ini akan dialokasikan untuk membeli buku!!” teriaknya sambil berkeliling menjual jamunya. Kegiatan ini Kiswanti lakukan selama sembilan bulan, Ia tawakkal kepada Alloh, Ia yakin setelah sembilan bulan pasti akan ada yang terlahir dari usahanya. Kenapa Ia memilih sembilan bulan? Seperti ibu hamil, setelah sembilan bulan baru akan terlahir bayi yang menggemaskan.

“bagaimana saya memacu semangat saya? Dengan ungkapan syukur! Semangat ini adalah rasa syukur saya atas semua yang sudah diberikan Alloh. Mungkin kalau saya kaya, saya tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya bersyukur saya terlahir sebagai orang miskin” tutpnya sambil tersenyum.

Pembaca yang berbahagia, Satu lagi anak negeri ini memberi bukti bahwa kebermanfaatan bisa dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh seorang miskin yang hanya lulus SD. Jika Kiswanti bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, maka kita harusnya juga bisa. Mari terus bergerak memberi manfaat bagi sesama.

Salam dahsyat, SyaiHa