Jala Dara (24), gadis manis berperawakan sedang asal Ciamis ini adalah TKI yang juga berprofesi sebagai penulis. Selasa 06 Desember 2011 gadis yang biasa di panggil Dara ini berkesempatan menjadi pembicara di kegiatan workshop SGEI angkatan tiga. Salah satu judul buku Dara yang sangat diterima oleh masyarakat adalah ‘Surat Berdarah untuk Presiden’ dan sudah diserahkan ke Presiden melalui Dompet Dhuafa Jawa Timur.

“sampai saat ini alhamdulillah saya sudah menerbitkan lima belas buku, dan mohon doanya untuk buku ke enam belas yang insyaAlloh akan terbit Januari nanti” begitulah kalimat awal yang diucapkan Dara di depan peserta SGEI angkatan tiga, yang langsung diaminkan oleh seluruh peserta SGEI.

Forum menjadi sangat interaktif ketika dibuka sesi diskusi, sebagian peserta mengangkat tangannya untuk bertanya.

“buku pertama yang saya terbitkan adalah kumpulan puisi yang berserakan sejak saya masih Sekolah Dasar. Dari sini kemudian meningkat ke ontolagi prosa, ontologi puisi, cerpen, dan sekarang sedang menggarap novel” jawab Dara saat salah satu peserta menanyakan tentang buku apa yang pertama kali diterbitkan.

“kenapa mbak memutuskan menekuni dunia tulis penulis?” Uthe, peserta SGEI asal Jakarta tiba-tiba mengajukan pertanyaan.

“TKI Hongkong mungkin tidak seburuk TKI yang ada di Mesir atau Arab. Jika di Arab sana 90% menderita sedangkan 10% sisanya berhasil dan sukses. Di Hongkong, justru kebalikannya. Namun, 10% itu tetap saja manusia yang harus disuarakan hak-haknya. Selain itu, menulis bagi saya adalah kewajiban, dengan menulislah saya berdakwah” jawab Dara penuh keyakinan.

“saya belajar menulis karena saya rajin membaca, dengan membaca saya menjadi faham cara menulis yang menarik. Bagi penulis, membaca adalah makanan dan menulis adalah minuman baginya. Membaca dan menulis adalah kewajiban bagi seorang penulis” demikian ujar Dara saat ditanya tentang bagaimana cara menulis yang baik.

Hikmahnya..

Hari ini kembali aku diingatkan dan dimotivasi untuk rajin menulis, menulis adalah sebuah keterampilan yang harus dilatih setiap hari. “salah satu cara terbaik untuk menjadi penulis” nasihat Omjay ketika itu “adalah dengan menulis setiap hari. Menulis adalah ajang latihan yang baik untuk menjadi penulis yang handal”

Selain menulis, membaca juga sebuah kewajiban. Membaca itu bukan hanya membaca buku, tapi membaca lingkungan, membaca karakter orang, dan sebagainya. Ketika bertemu dan berinteraksi dengan orang lain, kita sedang membaca. Ketika termenung dan memandang langit, kita sedang membaca. Kita sedang membaca di manapun.

Kini, aku sedang berkomitmen untuk menulis dan membaca setiap hari. Guna mangasah keterampilanku dalam menulis. Mohon bantuan dan dukungan dari pembaca semua. Semoga bermanfaat.

Salam dahsyat, SyaiHa