Pagi ini, saat sedang asyik menyeruput secangkir kopi hangat sambil mendengar berita dan membaca berita online di internet, tiba-tiba telingaku menangkap berita unik di salah satu televisi swasta nasional, kemarin tanggal 03 Desember 2011 merupakan hari diffable, hari penyandang cacat sedunia. Apanya yang unik? Ya! unik, Karena aku termasuk satu diantara sekian banyak orang yang diberikan keunikan oleh Alloh swt.

Penetapan 3 Desember sebagai Hari Internasional Penyandang Cacat merupakan hasil resolusi PBB No: 47/3 tahun 1992. Sebagai bentuk komitmen partisipasi penyandang cacat dalam pembangunan nasional, pemerintah RI mengesahkan UU tentang Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Penggunaan kata penyandang disabilitas dianggap lebih positif bila dibandingkan dengan penyandang cacat.

Hari penyandang disabilitas tahun ini diadakan di kelapa gading jakarta utara dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, tujuannya adalah untuk mensosialisasikan bahwa penyandang disabilitas juga bisa berkarya dan agar tidak lagi ada diskriminasi. “Pertama yang kita inginkan tidak ada diskriminasi dalam masyarakat untuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Apalagi dengan adanya ratifikasi, mereka bukan hanya objek,” ujar Salim Segaf al Jufri saat ditemui wartawan sebelum acara.

Salim mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah mempekerjakan penyandang cacat yang berarti mereka juga ikut dalam pembangunan. “Saya melihat komitmen dari dunia usaha cukup bagus. Ada beberapa perusahaan bahkan sepertiga dari karyawannya penyandang disabilitas. Itu memberikan kesadaran kepada seluruh komponen bangsa bahwa mereka juga bagian penting dalam pembangunan,” lanjutnya. Walau tak dapat kita pungkiri juga bahwa masih banyak perusahaan swasta yang tidak mau menerima karyawan penyandang disabilitas.

Beberapa kisah para penyandang disabilitas

Nur Hasanah, gadis yang tingal di desa Galis, Pamekasan, Jawa timur ini memiliki cacat pada kakinya sejak lahir. Ia hanya bisa melangkah dengan tongkat pipa plastik. Namun keadaan ini tidak membuatnya putus asa, menurutnya tidak ada yang sia-sia dari ciptaan tuhan. Aktivitasnya kini adalah menjahit dan membuka kios di rumahnya, dari aktivitas ini Ia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia sangat berharap pemerintah bisa lebih berpihak kepada orang-orang sepertinya dengan membangun sarana yang memudahkan bagi penyandang disabilitas sepertinya.

Zubaidah (48), wanita paruh baya ini memiliki kesulitan dalam melakukan perjalanan. Sehari-harinya Zubaidah menggunakan angkutan umum untuk bepergian, dan kondisi kendaraan umum kita masih belum memudahkan para penyandang disabilitas seperti Zubaidah. “Mau ke mana-mana sulit. Karena, tidak ada kendaraan khusus bagi kami penyandang disabilitas. Selama ini pemerintah hanya janji-janji untuk aksesibilitas,” kata Zubaidah.

Syaiful Hadi (25), ya, diriku sendiri. Terkena folio sejak usia satu tahun karena malpraktek membuatku harus memiliki kaki kanan yang kecil dan tak berdaya. Aktivitasku hanya bertumpu pada satu kaki kiri. Pernah suatu ketika, saat SMP, aku diremehkan oleh kepala sekolahku hanya karena ingin ikut berpartisipasi dalam lomba pramuka. “Syaiful kalau bisa jangan ikut, nanti kalau yang lain lari dan melompat, kamu tidak bisa. Hanya akan mengurangi nilai kelompok saja” ujarnya ketika itu.

Masih banyak lagi orang-orang yang tidak beruntung di luar sana, kami semua tidak pernah meminta untuk menjadi seperti ini. Namun saat semuanya telah terjadi, tidak ada pilihan lain selain untuk terus berkarya dan berbuat lebih. Pemerintah mungkin memang tidak terlihat mendukung kami, lihat saja IPB (dan mungkin di kampus lain juga demikian), tempat kuliahku, lima lantai, dan tidak ada lift. Aku selalu berkeringat jika harus kuliah di lantai paling atas. “yah itung-itung olah raga” kalimat yang selalu aku gunakan untuk menghibur diri. Semoga bermanfaat.

Salam dahsyat, Syaiha