Krisis moneter 1998 mungkin tidak akan pernah bisa dilupakan oleh lelaki kecil ini, Sukrismon. Bocah bertubuh kurus dan tinggi semampai ini memiliki wajah yang ceria, suara yang lantang layaknya bocah pantai, dan berkulit sawo matang. Rambutnya lurus dan memiliki poni hingga mendekati alis matanya.

Untuk ukuran orang Minang, Sumatera Barat, namanya memang unik. Aku mengernyitkan dahi pertama kali mengenalnya. Namanya mengundang pertanyaan buatku, unik, pasti ada artinya.

“kalau kata ayah saya, Sidang Umum Krisis Moneter, ustadz” jawabnya ketika saya menanyakan arti dari namanya.

Sukrismon memang lahir saat negara ini kisruh kepemimpinan dan ekonomi, 21 Februari 1998. Mungkin tidak tepat, saat semua serba mahal, bahkan mungkin orang tuanya tak mampu beli susu ia justru menyeruak keluar dari rahim sang ibu. Ah kasihan sekali. Sukrismon terlahir sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara, terlahir dengan ayah yang hanya sebagai buruh bangunan dan ibu yang hanya ibu rumah tangga, membuat sukrismon menjadi anak yang jauh dari kemewahan. Hidup seadanya.

“cita-cita saya ada dua, ustadz” katanya saat saya menanyakan tentang harapan dan mimpinya di masa datang.

“pertama ingin jadi TNI AU, agar bisa membantu ayah di Padang”

“terus cita-cita keduanya apa?” tanyaku penasaran.
Sukrismon tertunduk, malu. Aku tetap menunggu jawaban darinya.

“malu ustadz” katanya lirih sambil tersenyum.

“kenapa mesti malu, bercita-cita itu bukan sebuah kesalahan. Justru itu pedoman. Tujuan yang harus kita usahakan untuk meraihnya” aku meyakinkannya.

“ingin jadi Presiden Amerika, ustadz”

Ups. Unik. Hampir saja aku tertawa mendengarnya. Untung masih bisa ku tahan. Sebagai seorang guru, aku harus menghargai semua mimpi sahabat kecil ini. Tugasku adalah memberinya dorongan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Asal kita memiliki niat yang baik, diikuti dengan usaha maksimal, dan diakhiri dengan tawakkal yang sempurna kepada Alloh, maka tunggulah hasil yang akan diberikan Alloh kepada kita.

“Terus, apa rencana yang akan dilakukan untuk menggapai mimpi itu, Mon?”

“nanti saya ingin melanjutkan kuliah di UGM, ambil jurusan di fakultas MIPA” jawabnya polos. Aku semakin tidak mengerti, “nih bocah ingin jadi TNI AU tapi kok malah ingin masuk kuliahnya di UGM, MIPA lagi. Ga nyambung banget dah”

“nanti setelah kuliah, saya langsung ke Amerika, ustadz” jawab bocah yang juga mahir mengaduk semen dan memplester tembok ini.

Nah ini baru nyambung, setelah kuliah langsung ke Amerika dan meniti karir di sana. Semoga mimpimu tercapai nak.

Tulisan ini dibuat dari hasil ngobrol dengan Sukrismon, ba’da maghrib Rabu 01 Desember 2011 saat menanti sholat isya di masjid. Sukrismon kini sedang meniti pendidikan di Sekolah SMART Ekselensia Indonesia, Dompet Dhuafa. Sekolah khusus anak-anak dhuafa ini, gratis, dan mampu menamatkan SMP dan SMA hanya lima tahun.
Semoga bermanfaat.

Salam dahsyat, SyaiHa