Sebuah kisah :

Di sebuah negeri entah berantah hiduplah seekor monyet yang handal dalam memanjat pohon kelapa. Hampir tidak pernah gagal apalagi terjatuh. Hingga pada suatu saat dilakukanlah sayembara, menjatuhkan sang monyet ketika sedang di atas pohon kelapa. Berduyun-duyun peserta mendaftarkan diri untuk ambil bagian dalam sayembara ini, termasuk tiga jenis angin, angin puyuh, angin puting beliung, dan angin sepoi-sepoi. Satu-persatu pula peserta sayembara gagal menjatuhkan sang monyet dari pohon kelapa. Tibalah giliran ketiga jenis angin tadi.

Angin puyuh dengan kekuatannya menghantam sang monyet ketika sedang di atas. Wuuzzz… namun semakin kencang angin puyuh mengerahkan seluruh kekuatannya, semakin kencang pula sang monyet mencengkeram batang pohon kelapa. Tidak terjatuh, angin puyuh gagal. Begitupun angin puting beliung, semakin kencang ia memutar semakin kencang pula cengkeraman sang monyet.

Giliran angin sepoi-sepoi unjuk kebolehan. Sontak semua penonton tertawa, meremehkan. “Mana mungkin ia berhasil, angin puyuh dan angin puting beliung yang gagah perkasa saja gagal” pikir sebagian besar penonton, meremehkan. Bertiuplah angin sepoi-sepoi, mengalir pelan, sejuk, dan menentramkan. Beberapa saat kemudian sang monyet mengantuk, dan terjatuh. Angin sepoi-sepoi berhasil.

Cerita di atas murni fiktif, tidak mungkin ada dalam kehidupan nyata kita, sengaja ditulis sebagai sebuah renungan buat penulis dan pembaca yang berbahagia, semoga saja bisa membuat pembaca senyum-senyum ingin tertawa, atau mengernyitkan dahi, heran. Terserahlah.

Apa hikmahnya?

Apakah kalian akan dibiarkan saja mengatakan saya beriman, lalu Alloh tidak menguji (keimanan) kalian? Tidak! Alloh pasti menguji (keimanan) orang-orang yang sudah mengaku beriman. Semakin kuat iman seseorang, biasanya ujian yang datang juga akan semakin hebat. Bak sebuah pohon, semakin tinggi pohon, maka angin yang berhembus juga akan semakin kencang.

Ujian itu pasti akan datang, menguji komitmen kita semua. Setiap hembusan nafas kita, selalu beriringan dengan ujian, cobaan, dan masalah. Itulah yang justru membuat kita menjadi lebih kuat dan tangguh. Seorang teman pernah menasihatiku, bahwa ujian itu akan datang di titik terlemah kita, kemudian apakah kita akan berjaya dan menang, atau malah jatuh tersungkur dalam lembah kehinaan. Jika kita menang maka kita akan tangguh luar biasa.

Selama ini sebagian besar kita menilai bahwa ujian berat itu identik dengan kemalangan, kesedihan, atau musibah. Belum tentu. Kemiskinan misalnya, bagi sebagian orang yang memang miskin, itu hal yang biasa. Tapi bagi orang-orang yang biasa kaya, ditimpa kemelaratan adalah bencana. Mungkin mereka akan stress, atau mungkin malah jadi gila dan bisa bunuh diri. Berat atau ringannya sebuah ujian bergantung pada siapa ujian itu diberikan.

Ujian kemalangan, kesedihan, dan musibah, bagi sebagian besar orang sudah bisa melewatinya dengan baik. Karena ujian ini kentara, jelas terlihat. Namun saat ujian dalam bentuk kesenangan melanda, kekayaan dan ketenaran, banyak yang tidak menyadarinya dan terlena ‘ikhlas’ terjerumus ke jurang nista. Seperti kisah fiktif di atas, sang monyet justru jatuh karena angin sepoi-sepoi yang tdak begitu bertenaga. Semoga bermanfaat.

Salam Dahsyat, SyaiHa