Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) adalah sebuah program dari Makmal Pendidikan LPI Dompet Dhuafa Republika yang berfokus pada penjaringan sarjana-sarjana muda dari seluruh pelosok nusantara yang kemudian dididik selama enam bulan. Tujuan utama program ini adalah membentuk Guru Model yang Berkarakter Pemimpin.

Dua bulan pertama adalah kegiatan workshop di kelas, tiga minggu berikutnya peserta melakukan KKN, dan dua bulan terakhir peserta akan magang di sekolah-sekolah mitra Makmal Pendidikan. Workshop yang dilakukan selama dua bulan meliputi pengenalan dan peningkatan kompetensi keguruan, pendidikan berkarakter, menata pustaka, teknik menulis, manajemen anak berkebutuhan khusus, multiple intelegencies, keshalihan sosial, guru pemimpin, dan materi lainnya yang menunjang kepemimpinan. Selain kegiatan kuliah, peserta juga disuguhi dengan kegiatan asrama yang sangat padat dan melelahkan.

Sudah dua bulan lebih kami mengikuti workshop di SGEI, hingga kemudian Senin 28 Nopember 2011 kami disuguhi dengan materi Menata Pustaka dari pegawai perpustakaan SMART Ekselensia Indonesia. Kuartet Mbak Ibad, Pak Ujang, Mbak Nunug, dan Mbak Teti benar-benar membuat kami mengerti bahwa ternyata mengelola perpustkaan itu tidak gampang. Di awal pembelajaran kami dibagi menjadi lima kelompok dengan nama kelompok yang berhubungan dengan perpustakaan : klasifikasi, inventarisasi, kartu buku, tajuk subjek, dan bahan pustaka. Kemudian setiap kelompok diberikan soal yang sama dan diminta berdiskusi mencari jawabannya. Di awal-awal kondisi kelas masih kondusif, karena pemateri masih melarang menggunakan laptop.

“Jangan googling, berpikirlah dengan otak sendiri..” mbak Ibad menasihati kami. Materi menata pustaka ini memang memakan waktu yang panjang, seharian. Bahkan waktu yang sudah disediakan terlihat tidak mencukupi. Selama seharian ini kami disuguhi tentang tahapan menata pustaka, mulai dari Pengadaan Bahan Pustaka, Pengolahan Pustaka, Palayanan Pustaka, dan Perawatan Bahan Pustaka.

Pengadaan bahan pustaka bisa diperoleh dengan pembelian, hadiah atau sumbangan dari orang atau lembaga dengan di awal pihak perpustakaan mengajukan proposal, tukar menukar dengan perpustakaan lain, kliping koran maupun kliping soal, fotokopi, dan menjilid naskah. Pengolahan bahan pustaka meliputi pustakawan membubuhkan stempel “Perpustakaan SMART” dan nomor induk, pustakawan menempelkan kartu buku, pustakawan mengklasifikasikan buku berdasarkan DDC, pustakawan mencantunkan call number di koleksi buku, pustakawan menempelkan label warna sesuai klasifikasi yang sudah dibakukan oleh PSB SMART, pustakawan menempelkan label DDC di punggung buku, pustakawan menginventarisasi koleksi buku ke dalam buku induk, pustakawan menginput data koleksi buku ke komputer, dan pustakawan menyimpan koleksi buku ke dalam rak buku.

Pelayanan dan peminjaman di setiap perpustakaan berbeda, tergantung kebijakan dan aturan yang diterapkan. Tahapan terakhir dari pengelolaan perpustakaan adalah perawatan dan pemeliharaan. Pada tahapan akhir ini terdiri dari reproduksi untuk buku yang sudah tua, biasanya dengan difotokopi dan dijilid. Penjilidan untuk buku-buku yang lepas sebagian halamannya. Penyiangan untuk buku-buku yang tidak layak bagi segmen pembaca. Penyampulan dilakukan pada buku yang memiliki sampul yang rusak dan yang terakhir adalah teknik menambal dan menyambung.

Hari itu kami benar-benar diberitahu bahwa menejemen perpustakaan itu tidak mudah, maka datanglah ke perpustakaan sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras mereka, para pustakawan. Membaca adalah jendela dunia.