Siang hari itu, minggu 27 Nopember 2011, praktis kugunakan hanya untuk istirahat dan merenung. Istirahat karena memang malamnya aku kurang tidur, program mabit dari asrama Sekolah Guru Ekselensia Indonesia mencuri sebagian besar waktu istirahatku. Dan Merenung karena perkenalanku dengan Afdhal Firman, seorang bocah dari Pariaman, Sumatera Barat. Aku masih ingin mengenalnya lebih jauh.

Salah satu kenikmatan yang ku peroleh di SGEI ini adalah terjaganya ibadah, sholat berjamaah lima waktu yang selalu di masjid, tilawah al quran, berpuasa sunnah, shaolat malam, dan masih banyak lagi. Termasuk malam itu, ketika maghrib menghampiri, aku langsung bersiap ke masjid bersama teman-teman. Di masjid mataku liar, mencari bocah hitam dan pendek, Firman, untuk kembali mengobrol tentang kehidupannya. Untuk mengasah sisi emosional dan spiritualku.

“ah dimana Firman? tidak mungkin Ia tidak ke masjid..” pikirku.

Hingga isya, aku masih tidak menemukannya. Ramai sekali di masjid, 200an manusia berkumpul di sini, jelas membuatku susah menemukan bocah kecil itu. Aku menyerah.

“Assalamu’alaikum ustadz” seorang anak menjulurkan tangan ketika aku baru selesai mengerjakan sholat qobliyah isya.

“wa’alaikumsalam..” aku menjabat tangannya dan Ia langsung mencium tanganku.

Bocah itu mendongakkan sedikit wajahnya, tersenyum ragu-ragu. Aku membalas senyumannya sebaik mungkin. Ah ini dia, bocah yang dari tadi aku cari, Afdhal Firman.

“ehm.. Afdhal Firman? Dari Padang? Anak pertama dari tiga bersaudara? Ayah Firman buruh bangunan? Benarkan?” aku kembali memanggil memori perkenalan singkat tadi pagi dengannya. Maklum, sebagai seorang sanguinis yang dominan, aku sering sekali lupa nama-nama orang yang baru ku kenal.

Firman hanya mengangguk, mengiyakan.

“o iya Firman, siapa nama adik-adiknya? Perempuan atau laki-laki?” tanyaku.

“laki-laki semua ustadz, yang kelas IV SD namanya Zerli Ardiansyah, kalau yang paling kecil Febri Ferdinan ustadz”

“wah bagus-bagus ya namanya..” aku memegang pundaknya.

Iqomah masih belum juga berkumandang, aku melirik ke indikator iqomah, 1.23 menit lagi. Pandangan ku alihkan kembali ke Firman, Ia masih saja menunduk, malu-malu. Sibuk dengan dunianya sendiri, menggaruk-garuk jempol kaki kanannya.

“ayah sama ibu pernah berkunjung ke sini, Firman?”

“belum ustadz, cuma ayah dulu yang nganterin ke sini. Udah itu gak pernah lagi datang”

“pernah dikirim uang oleh ayah gak Firman?”

“gak pernah ustadz, cuma dikasih 400rb pas pertama di sini dulu”

MasyaAlloh.. aku kalah. pertama kali aku melalang buana dahulu, ketika hendak melanjutkan sekolah ke SMA unggulan di Propinsi Bengkulu, aku membawa uang 1.1 juta, aku juga sudah jauh lebih besar daripada Firman sekarang ini. Dalam sujudku malam itu, aku berdoa semoga banyak uluran tangan dari para dermawan untuk anak-anak seperti Firman.