oleh : Asmiati, Mahasiswa Sekolah Guru Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa

Cuaca hari itu cerah, suasana yang menyenangkan untuk mengakhiri Oktober 2011. Aku dan 31 temanku adalah peserta SGEI-III (Sekolah Guru Ekselensia Indonesia III). Hari itu kami mendapat tugas melakukan observasi sekolah di beberapa SD di daerah Jampang, Kabupaten Bogor. SDN Jampang 03 menjadi target utamaku. Kelas VI A, terdiri dari 31 siswa yang cerdas. Mereka unik, hebat dan memiliki cita-cita yang luar biasa. Untuk mengisi kekosongan jam pelajaran, aku diminta untuk mengajar. Itu adalah kali pertama aku mengajar di sekolah formal.

Setelah memperkenalkan diri kepada para siswa, Aku meminta mereka menyiapkan pulpen dan selembar kertas. “Anak-anak, silahkan tulis nama lengkap kalian pada kertas tersebut, dan ceritakan cita-cita kalian, setelah selesai, kalian akan Ibu panggil untuk mebacakan cita-cita kalian di depan kelas.” Semua siswa larut dalam imajinasinya masing-masing, semua ingin menceritakan tentang cita-citanya.

Satu persatu siswa maju dan membacakan cita-citanya, ada yang ingin menjadi tentara seperti Ayahnya, ada yang ingin menjadi dokter, ada juga yang ingin menjadi guru, bahkan ada yang ingin menjadi artis terkenal seperti Ayu Ting-Ting. Tiba giliran siswa laki-laki, tubuhnya gemuk, berkulit putih dan bermata sipit. Dengan lantang dia membaca tulisannya.

“ Nama saya Arsil, saya ingin menjadi Presiden supaya punya uang yang banyak. Kalau saya punya uang yang banyak, Ibu saya tidak perlu bekerja sampai larut malam.”

Arsil adalah satu-satunya siswa yang bercita-cita menjadi Presiden. Aku hanya bisa bertepuk tangan untuk menghargai mereka, bahwa cita-cita yang mereka miliki sangat hebat. Alasan yang dilontarkan Arsil sangat mengganggu pikiranku. Ketika jam istiraha tiba, aku menghampiri Arsil dan mencoba ngobrol dengannya. Dari hasil obrolan kami, aku baru tahu, ternyata Ibunya Arsil bekerja sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) di daerah sekitar rumahnya. Pergi malam, pulang pagi. Arsil selalu iri kepada teman-temannya karena sejak kelas I dia tidak pernah diantar oleh Ibunya ke sekolah. Ketika Arsil ke sekolah Ibunya selalu tidur. Dengan semangat Arsil menirukan kata-kata yang selalu diucapkan Ibunya, “ kalau Ibu ga kerja, uang buat sekolah kamu dari mana? Kita mau makan apa?” itulah yang menyebabkan Arsil ingin menjadi Presiden dan memiliki uang yang banyak, agar Ibunya tidak perlu bekerja sampai larut malam.

Sepulang sekolah, aku menonton salah satu acara di TV yang menampilkan Presiden Indonesia berpidato di podium. Dengan wajah sedih, Presidenku berkata “Saya prihatin dengan kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di sana”

Hanya kata-kata prihatin yang bisa dilontarkan oleh Presidenku. Dalam hati aku bergumam, jika Arsil ingin menjadi Presiden, mungkinkah Presiden memiliki cita-cita seperti Arsil?