Matahari masih malu-malu keluar dari peraduan dan embun masih menggelantung di ujung dedaunan. Namun aku sudah bersemangat menjemput keberkahan di hari ini, minggu 27 Nopember 2011.

Baru saja selesai sarapan ketika anak itu tersenyum malu dan kemudian menundukkan wajahnya, berjalan di belakangku. Tubuhnya kecil, pendek, berkulit hitam dan berwajah lonjong. Rambutnya lurus, lusuh. Aku tertarik untuk mengenalnya. Aku memperlambat langkah, ingin membersamainya.

“Assalamu’alaikum ustadz..” sapanya sangat lirih, hampir tak terdengar.

“Wa’alaikumsalam..” aku membalas salamnya dengan memberikan senyuman terbaikku. Namun bocah ini tetap saja menundukkan wajahnya, malu. Apa yang salah? Apakah wajahku begitu menyeramkan hingga ia takut untuk sekedar memandangku?

“siapa namanya dek?” aku memegang pundaknya.

“ya Alloh, kurus sekali anak ini..” pikirku.

“Afdhal Firman” masih dengan suara yang sangat lirih, tak terdengar.

“siapa? Afdan?” tanyaku sekali lagi, kini aku menundukkan kepala, mendekatkan telingaku ke sumber suaranya.

“Afdhal Firman, ustadz”

“oh, Afdhal Firman, dari mana asalnya?”

“Padang”

“Sumatera Barat ya?”

Firman hanya menggangguk, masih malu-malu.

“o iya, Firman anak ke berapa?”

“anak pertama dari tiga bersaudara Ustadz”

“oh.. jadi sekarang adik-adiknya kelas berapa Firman?”

“yang satu kelas empat SD, yang satu lagi masih usia tiga tahun ustadz”

“nah, kalau ayah sama ibu kerja apa Firman?”

Firman tertunduk, malu dan sepertinya enggan mengucapkan. Aku menunggu.

“buruh ustadz, buruh bangunan”

Di depan asrama kelas 1 SMART Ekselensia Indonesia, kami berpisah. Sayang sekali, padahal masih banyak yang ingin aku ketahui dari Firman, aku ingin belajar darinya tentang arti sebuah pendidikan bagi orang tak mampu sepertinya, arti sebuah perjuangan, arti merantau di usia yang sangat belia, dan arti kehidupan lainnya. Firman memang masih sangat belia, namun Ia pantas dijadikan salah satu guru kehidupan. Firman sudah berkilau sejak dulu, mengalahkan kilauan anak-anak lain se-Sumatera Barat dalam seleksi masuk SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa Republika. Firman, mutiara dari Pariaman.

Aku yakin, masih banyak mutiara lain yang berkilauan di pelosok negeri ini. Miris, di saat kepala negara menghamburkan miliyaran rupiah untuk sebuah pesta pernikahan, di pojok negeri ini banyak generasi yang menanti bantuan hanya untuk sekedar melanjutkan pendidikan. Mutiara-mutiara lain itu tak seberuntung Firman dan 34 anak lainnya. Andai saja SMART Ekselensia Indonesia bisa menjadi besar, maka tidak hanya 35 mutiara saja yang mampu di sekolahkan di sini

Advertisements