Matahari sudah setengah lebih dari timur, ba’da sholat jumat. Aku berjalan santai ke arah kelas, memikirkan tentang mimpi masa depan yang sedang dibangun, menyusun bata-bata harapan menjadi bangunan mimpi yang utuh. Terkejut dengan sapaan dari arah belakang yang tiba-tiba tangannya menyentuh pundakku.

“Assalamu’alaikum..” sapanya,

“wa’alaikumsalam..” jawabku singkat sambil menolehkan wajah ke belakang, tersenyum dan menjabat tangannya yang sudah dijulurkan kepadaku.

Lelaki itu, bertumbuh gembul dan pendek, berkulit sawo matang khas masyarakat Indonesia pada umumnya. Beberapa bintik hitam tahi lalat menghiasi wajah cerianya. Wajahnya selalu kental dengan senyuman membuatnya terlihat ramah dan menyenangkan.

“kuliah apa hari ini?” tanyanya masih dengan senyum mengembang.

“Karakter Seorang Guru pak, ibu Evi” jawabku singkat.

Aku memang sedang mengikuti sebuah program, Sekolah Guru Ekselensia Indonesia (SGEI) dari Makmal Pendidikan, Lembaga Pengembangan Insani (LPI), Dompet Dhuafa. Program ini menjaring sarjana-sarjana muda fresh graduate untuk di bina menjadi seorang guru model berkarakter pemimpin selama 6 bulan. Kemudian akan dikirim ke daerah-daerah marginal untuk menjadi guru SD selama satu tahun.

“setelah selesai dari SGEI rencananya akan kemana Syaiful?” lelaki itu kembali bertanya.

“sebenarnya cita-cita saya ingin jadi trainer pak, trainer pendidikan dan motivasi, terutama bagi penyandang cacat seperti saya”

“bagus tuh..”

“iya, hanya saja saya bingung harus memulainya dari mana? Belum menemukan celah menuju ke sana pak..”

Lelaki itu terdiam sejenak dan kemudian menghentikan langkahnya. Mengajakku untuk juga menghentikan langkah.

“kita sebagai manusia, hamba Alloh, jangan pernah menyangsikan masa depan kita. Alloh pasti sudah merancang yang terbaik”

Aku diam, menyimak.

“kita harus yakin bahwa ketika kita sudah mempunyai cita-cita dan berdoa kepada Alloh, Alloh pasti akan mengabulkannya. Dan Alloh pasti akan memberikan keinginan itu saat semuanya sudah siap. Karena jika permintaan itu diberikan di saat kita belum siap, justru akan menjadi bencana buat kita. Ibarat seseorang anak yang diberikan dinamit, pasti membahayakan dirinya”

Aku mengangguk-angguk. Mengerti.

“jika ingin menjadi trainer, maka siapkan dari sekarang untuk menjadi trainer. Banyak membaca, ceria, menyenangkan, sesuai antara ucapan dan amal, berpakaian rapi, dan mudah bergaul” lelaki itu melanjutkan.

“insyaAlloh pak..”

“setiap manusia itu pasti akan mencapai titik kesuksesan hidupnya suatu saat. Maka bersiaplah dari sekarang, jangan sampai ketika masa itu datang kamu justru belum siap. Mungkin Alloh ingin menuangkan air sangat banyak kepadamu, namun saat yang kamu siapkan hanya cangkir, otomatis yang tertampung sangat sedikit. Maka bersiaplah dari sekarang, jadilah ember yang akan menampung pemberian Alloh jauh lebih banyak dari pada cangkir” lelaki itu mengakhiri nasihatnya sambil menepuk pundakku hangat dengan senyuman renyahnya yang tetap mengembang.

Aku melanjutkan langkah menuju kelas, kini dengan semangat yang membara.