“masyaAlloh…” inilah ucapan pertama di hatiku, tertegun saat pertama kali kaki ini melangkah masuk ke sebuah ruangan persegi panjang, di pojok kanan belakang sebuah sekolah, di bilangan parung, Bogor. Jauh dari bayanganku selama ini, yang kudatangi bukan sebuah ruangan yang luas, bersih, dan rapi apalagi berAC. Bukan pula berisi anak-anak yang kaya dan IQ di atas rata-rata. Semuanya hanya biasa-biasa saja, bahkan lebih banyak yang lebih rendah dari biasanya. Semua jauh api dari panggang. Ruangan sederhana ini memiliki kedua sisi yang berdinding tembok, sedangkan sisi belakang terdiri dari tiga jendela kaca dan satu pintu yang selalu terbuka, tidak ada daun pintunya. Aliran udara di kelas terbantu dengan adanya kipas angin dan ventilasi di atas ruangan, namun siang ini kipas angin tidak menyala, aku tidak tahu, apakah masih berfungsi atau sudah rusak. Ruangan kelas yang hanya berukuran 5 x 10 meter ini semakin menjadi sangat sempit karena di isi oleh 33 siswa. Sepintas ruangan ini lebih mirip dengan gudang yang telah disulap menjadi ruang kelas. Memprihatinkan.

Keprihatinan ini semakin bertambah ketika melihat ada siswa yang berdiri di meja dan bernyanyi layaknya artis ternama. Berteriak-teriak dan jingkrak-jingkrak. Hatiku ciut, nyaliku mengecil, hampir hilang. Beberapa kemungkinan muncul tiba-tiba di kepalaku, mungkinkah aku bisa menguasai kelas ini? Atau mungkin aku hanya akan dianggap sebagai tunggul dan tidak akan didengarkan sedikitpun?

“Ya Alloh, beri hamba kemudahan..” terbersit dalam hatiku saat hendak melakukan proses belajar mengajar. Berharap Alloh memberikan kemudahan kepadaku agar mampu memanajemen kelas dengan baik.

“bismillahirrohman nirrohim..”

“ehemm..” aku berdehem, memberi isyarat agar siswa bisa memberi perhatian dan fokus. Semua mata kini tertuju ke satu titik, aku. Kemudian mulailah aku mengajar sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah disiapkan satu hari sebelumnya. Aku mengakui bahwa pelaksanaan pembelajaran di kelas banyak yang tidak sesuai dengan RPP, terutama pemakaian waktu dan target yang sudah ditetapkan. Melihat antusiasme siswa yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran, aku menjadi lupa waktu yang disediakan, 35 menit. Begitupun siswa, mereka seakan lupa tentang kondisi ruangan yang sempit dan gerah. Lupa bahwa waktuku sudah habis. Tidak ada keluh kesah yang keluar dari mulut mereka. Wajah mereka tetap ceria, bersemangat menjemput masa depan dari ruangan sederhana ini.

Di ruangan sederhana itulah mereka mengukir pelangi kehidupan, meretas mimpi, menggapai cita dan harapan untuk masa depan yang jauh lebih bermakna. Menjadi anak-anak negeri yang berguna dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Mandiri dan tangguh. Berharap dari sarana yang memadai? mustahil. Sudah ada ruangan ini saja sudah sebuah hal yang subhanalloh. Atau berharap peningkatan pendidikan dari pengajar yang berkualitas? Mungkin, tapi pasti butuh waktu yang lama. Karena pengajar yang ada juga seadanya.
Satu-satunya harapan adalah dari motivasi dan semangat yang bergejolak dalam dada diri masing-masing. Semangat inilah yang akan membedakan antara mereka dan mereka.

Seorang bijak pernah berkata “pada intinya manusia kalau bukan karena semangatnya, hanyalah seonggok daging dan darah saja”. Mereka adalah anak-anak yang dikarunia semangat yang tinggi. Anak-anak yang tidak peduli dengan keterbatasan yang ada, tidak peduli dengan kondisi ruangan yang sederhana dan seadanya. Semangat mereka akan membawa mereka melompati pagar lamunan kosong dan menerjang kesulitan-kesulitan. Aku yakin jiwa mereka tidak akan tenang dan hati mereka belum akan tentram sampai mereka meraih keinginannya dan memperoleh tujuannya.

Semoga, semangat itu, tetap terjaga dalam dada mereka, sehingga tidak ada keluh kesah apalagi putus asa. Dari sinilah aku berharap akan terlahir generasi-generasi tangguh yang akan menjadikan Indonesia lebih berwibawa. Amin.