bismillah…

Sahabat, kalian pasti ingat dan tau kisah imam Asy syafi’i ketika suatu hari beliau kesulitan menghafal ilmu Allah. Yup, beliau kemudian pergi ke guru nya dan mangadukan masalah ini kepada gurunya.

“hindarilah maksiat!!” itulah nasihat yang diberikan oleh gurunya kepada imam Syafi’i.

“ilmu itu adalah cahaya dan cahaya tidak akan bisa meresap ke dalam hati kalau hati kita kotor” demikian kira-kira gurunya melanjutkan.

masyaAllah, manusia sekelas imam Syafi’i diminta menghidari maksiat! Coba bayangkan kira-kira maksiat apa yang Ia lakukan sampai Ia dinasihati demikian pedas? Inilah yang akan kita renungkan sekarang, selama ini kita menganggap maksiat adalah perbuatan yang jelas-jelas salah, kita selama ini menganggap maksiat itu ya pacaran, zina, mencuri, mabuk miras, dan hal-hal lain yang memang jelas-jelas itu maksiat.

Lalu apakah maksiat seperti itu yang diminta oleh guru imam Syafi’i untuk menghindarinya?? Demi Allah, bukan! Tidak mungkin orang semulia imam Syafi’i melakukan perbuatan itu.

Kita lanjutkan, sahabat, selama ini kita mengaku mencintai Allah dan Rasul, maka kalau kita benar-benar sadar akan apa yang kita ucapkan pasti maksiat itu tidak akan kita lakukan. Yak, kalau kita benar-benar mancintai Allah dan Rasul pasti kita akan melakukan apa yang diperintahNya dan menjauhi apa yang menjadi laranganNya.

Bukankah sebuah keniscayaan bagi sang pencinta bahwa ia akan dengan senang hati melakukan apa yang menjadi perintah dari yang dicintainya?

Nah sahabat, maka maksiat itu bukan hanya yang besar-besar saja, bukan hanya pacaran, mencuri, zina, dsb. Demi Allah bukan hanya itu! Kalau saat terdengar adzan namun kita masih asyik saja dengan tugas dan berdalih, nanggung nih, maka itu MAKSIAT!! saat kita sehat namun ternyata kita tidak menjalankan puasa Sunnah, maka itu MAKSIAT!! Saat kita lebih mengutamakan main game daripada tilawah dan belajar, maka itu MAKSIAT!! Saat kita bisa bangun malam, namun tidak bersegera untuk berwudhu dan malas melakukan sholat malam, maka itu MAKSIAT!! Dan masih banyak lagi, sungguh sangat banyak.

Maka wajarlah kalau rasulullah kemudian mencontohkan kepada kita untuk beristighfar minimal 70 kali sehari. Karena kita memang tukang maksiat. Istighfar akan menghapus dosa dan kesalahan kita, tapi ingat, setelah itu harus ada perbaikan. Jangan saat terdengar adzan kita asyik saja dengan tugas dan lalai sholat berjamaah di masjid, kemudian istighfar, eh besok di ulangi lagi.

Sungguh itu adalah sebuah kepura-puraan di hadapan Allah, pura-pura minta ampun, tahu-tahu besok diulangi lagi. Na’udzubillah..

Sahabat, ini adalah sebuah renungan buat kita semua. Saya juga tukang maksiat, sama seperti kalian. Namun mari sama-sama kita berlomba-lomba bergerak menuju kebaikan dan peningkatan kualitas diri.

Bismillah..